FSI-KU Gallery
FSI-KU punya banyak kegiatan di FBS. Yuk intip kegiatan apa saja yang sudah dilaksanakan FSI-KU mewarnai Fakultas Bahasa dan Seni :)
#GerakanAyoMentoring
#GerakanAyoMentoring yang digalakkan oleh Dept.LCIA di FBS menuai hasil yang Subhanallah. FBS sudah ikut mentoring, bagaimana dengan kamu? Mentoring: Mencerdaskan dan Mensolehkan :)
Pengurus FSI-KU
Bismillah, Assalamulaikum teman-teman sekalian. Mau kenal siapa-siapa saja yang ada didalam kepengurusan FSI-KU FBS UNJ di masa Amanah 2013? yuk taarufan!
Budaya Muslim FBS
Sebagai Kampus Pendidikan, FBS UNJ juga harus punya Budaya Muslim. Yuk kenali apa saja Budaya Muslim di FBS dan jangan lupa dipraktekan ya bro!
Nasyid FSI-KU
FSI-KU punya Nasyid loh! Namanya Nasyid Amoeba. Yuk kenalan siapa saja sih kakak-kakak bersuara merdu ini!
Jumat, 13 Maret 2015
Press Release KALAM-KU
19.24
No comments
Forum Study Khidmatul Ummah FBS kembali mengadakan Kalam-KU (kajian islam Fsi-KU) yang bertempat di Taman FBS, Kampus A UNJ pada hari kamis sore, 12 Maret 2015/21 jumadil awal 1436 H.
Kalam-KU masih istiqomah mengkaji kitab Ta'lim Muta'alim karya imam al-zarnuji. Dengan mengangkat Tema "permulaan belajar, ukuran (kadar), dan urutan dalam menuntut ilmu", Bersama Ust. Ardiansyah, M.Pd,I (pengasuh ma'had ali' hujjatul islam) dan dihadiri oleh 52 mahasiswa dan mahasiswi UNJ.
Dalam kitab Ta'lim muta'alim, hal. 57, fasal/bab
" في بداية السبق قدره و ترتيته "
Guru syeikh imam al-zarnuji, yaitu syeikh burhanuddin "menjadikan kebiasaannya untuk memulai belajar pada hari rabu" alasan pertama, karena suatu hadits yang ia terima dari gurunya secara talaqi dan beliau tidak menjadikannya hadits.
Hadits itu berbunyi >> : قال رسول الله صلا الله عليه و سلم"
ما من شي بدا في يوم الاربعاا الا و قد تم "
Lalu alasan kedua, dimulainya pada hari rabu. karena pada hari rabu, Allah menciptakan Nur (cahaya), hari Nahs untuk orang-orang yang tidal beriman (kafir), dan merupakan hari yang berkah bagi orang-orang mukmin.
Lalu tentang kadar belajar bagi kelas pemula, abu hanifah menceritakan perkataan gurunya, yaitu syeikh imam umar ibni imam abi bakr al-zaranji, "selayaknya kadar belajar bagi kelas pemula cukup diulang 2 kali, tetapi dengan catatan sudah paham. Dan yang menentukan proses belajar seseorang yaitu diri dan kemampuan anak itu sendiri". Sesungguhnya belajar cukup hanya dengan 1 kali, tetapi mengulanginyalah yang harus berkali-kali.
Di akhir kajian, ust. Ardiansyah mengingkatkan kepada kami, para penuntut ilmu, "untuk mencatat ulang setelah mengulang dan menghafal setelah belajar. Agar memahami ilmu dengan Baik".
Nah, karena hakikat ilmu itu sesungguhnya adalah DIDATANGI. Jadi, yukk kita datangi majelis-majelis ilmu, salah satunya Kalam-KU.
Ditunggu kehadirannya di Kalam-KU minggu depan, catat yaa tanggalnya, Kamis 19 Maret 2015 Jam 16.00 WIB.
FSI-KU 2015
Dekat, Bersahabat, dan Melayani Ummat
Family Gathering #2
19.03
No comments
Assalaamualaikum
Tidak terasa, Jalan-Jalan bareng Fsiku sudah di depan mata, "SECOND FAMILY GATHERING "
Hari : Ahad, 15 Maret 2015
Tempat : Di taman indah Ragunan
Pukul : 08.00 - 15.30 WIB,
Temukan keseruan Ukhwuah antar departemen dan biro!
Ada taujih, games, entrepreneur challenging, tukar kado, makan bareng, dan launching HJ
Ada taujih, games, entrepreneur challenging, tukar kado, makan bareng, dan launching HJ
dan tidak ketinggalan juga,, akan ada award dari panitia, dengan kategori :
1. Peserta ter-ontime
2. Departement terkompak
3. The best entrepreneur group
1. Peserta ter-ontime
2. Departement terkompak
3. The best entrepreneur group
Syarat kehadirannya gampang kok, silakan disimak ya..
1. ) Barang Bawaan Individu :
- membawa kado (minimal berharga 5 ribu rupiah) dan disampul putih
- makan siang masing-masing
- membawa kado (minimal berharga 5 ribu rupiah) dan disampul putih
- makan siang masing-masing
2. ) Barang Bawaan Kelompok :
- Bph : Air minum 1dus
- Syiar : Air minum 1 dus
- Kaderisasi : Puding
- Wirus : Bolu
- MCNR : Wafer Biskuit
- Bimus : Kriuk-Kriuk
- Kestari : rujak/buah
- ILC : gorengan
- Bph : Air minum 1dus
- Syiar : Air minum 1 dus
- Kaderisasi : Puding
- Wirus : Bolu
- MCNR : Wafer Biskuit
- Bimus : Kriuk-Kriuk
- Kestari : rujak/buah
- ILC : gorengan
Untuk Teknis keberangkatan,Titik Kumpul Pengurus FSIKU, di Masjid Alumni (MNI) jam 8 Pagi,
atau untuk yang rumahnya dekat dengan Ragunan, bisa langsung kesana dan berkumpul di PI (Pusat Informasi)
atau untuk yang rumahnya dekat dengan Ragunan, bisa langsung kesana dan berkumpul di PI (Pusat Informasi)
Bismillah semoga dimudahkan.
See You There Punggawa FSIKU!
See You There Punggawa FSIKU!
Sabtu, 28 Februari 2015
Catatan Kecil KIU (Kajian Islam Unj)
00.41
No comments
syarat mendapat ilmu:
1. Kecerdasan Allah memberi akal untuk terus berpikir. 2. Tidak pernah puas dengan ilmu yang didapat. Setiap dapat ilmu akan terus tahu betapa bodohnya dirinya. 3. Sabar. 4. Pengorbanan finansial. 5. Bimbingan guru.
Harus ada pembimbingnya. Setiap menuntut ilmu harus ada gurunya. Menuntut ilmu tidak bisa hanya satu kali pertemuan. Bagaimana mengetahui ilmu itu berkah atau tidak? Biasanya kita bisa memberikan pada orang lain tapi tak bisa dijalankan sendiri. Karena sumber ilmu bukan hanya akal, tapi juga dari ketakwaan. Ilmu dan amal tidak bisa dipisahkan. Orang yg tambah ilmu tak tambah hidayah maka sebenarnya tak bertambah apapun.
Indikator bahwa ilmu itu bermanfaat menurut Imam Ghazali :
1. Menambah rasa takut kita pada Allah. 2. Menambah pengetahuan kita tentang aib kita sendiri, bukan mengurus aib orang lain. 3. Menambah ma'rifat kita kepada Allah dengan tanda2 tambah beribadah kepada Allah. 4. Mengurangi ambisi duniawi. Tidak menjadikan orang gila dunia. Gila dunia adalah sumber segala kerusakan. Hanya niatkan karena Allah. 5. Menambah motivasi kita untuk kebahagiaan akhirat. 6. Membuat kita semakin jeli terhadap tipu daya setan. Ilmu bukan hanya untuk kita ketahui. Bukan hanya sekadar dihapal, tapi adalah ilmu yang bermanfaat bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk orang lain. Maka penting untuk dibimbing oleh guru. -Ust. Muhammad Ardiansyah-
Di Notulensikan Oleh NA dari FSIKU
Kamis, 29 Januari 2015
Berjuanglah Untuk Islam Walau Kita Pelaku Maksiat
20.12
No comments
Sumber: www.faridnuman.com
Saudaraku … Apa yang kau anggap atas dirimu sendiri? Begitu banyakkah dosa dan noda? Ketahuilah, setiap manusia –siapa pun dia- juga memiliki kesalahan, dan sebaik-baik manusia yang membuat kesalahan adalah yang mau bertaubat. Mari jadilah yang terbaik ………. Saudaraku … Apa yang menghalangimu membela agamamu? Apa yang merintangimu beramal demi kejayaan Islam dan kaum muslimin? Dosa, noda, dan maksiat itu? Ketahuilah, jika kau diam saja, tidak beramal karena merasa belum pantas berjuang, masih jauh dari sempurna, maka daftar noda dan maksiat itu semakin bertambah. Itulah tipu daya syetan atas anak Adam, mereka menghalangi manusia dari berjuang dan hidup bersama para pejuang, dengan menciptakan keraguan di dalam hati manusia dengan menjadikan dosa-dosanya sebagai alasan. Saudaraku … Hilangkan keraguanmu, karena Rabbmu yang Maha Pengampun telah berfirman: إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ Sesungguhnya kebaikan-kebaikan akan menghapuskan keburukan-keburukan. (QS. Hud: 114)
Hilangkan pula kebimbinganmu, karena kekasih hati tercinta, NabiNya yang mulia –Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam- telah bersabda: وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا Ikutilah perbuatan burukmu dengan perbuatan baik, niscaya itu akan menghapuskannya. (HR. At Tirmidzi No. 1987, katanya: hasan shahih. Ahmad No. 21354, 21403, 21487, 21536, 21988, 22059, Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 296, 297, 298, juga Al Mu’jam Ash Shaghir No. 530, Ad Darimi No. 2833, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 178, katanya: “Shahih, sesuai syarat Al Bukhari dan Muslim.” Disepakati oleh Imam Adz DZahabi dalam At Talkhish. Sementara Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Syaikh Al Albani menghasankannya dalam kitab mereka masing-masing) Saudaraku … Tidak usah berkecil hati dan jangan putus asa, sungguh agama mulia ini pernah dimenangkan oleh orang mulianya dan para fajir(pelaku dosa)nya. Semuanya mengambil bagian dalam gerbong caravan pejuang Islam. Imam Al Bukhari telah membuat Bab dalam kitab Shahihnya, Innallaha Yu’ayyidu Ad Diin bir Rajul Al Faajir (Sesungguhnya Allah akan menolong agamaNya melalui seseorang yang fajir). Ya, kadang ada pelaku maksiat, seorang fajir, justru dia melakukan aksi-aksi nushrah (pertolongan) terhadap agamanya, dibanding laki-laki yang shalih. Semoga aksi-aksi nushrah tersebut bisa merubahnya dari perilaku buruknya, dan dia bisa mengambil pelajaran darinya sampai dia berubah menjadi orang shalih yang berjihad, bukan lagi orang fajir yang berjihad. Saudaraku … Ada Abu Mihjan!! Kukisahkan kepadamu tentang Abu Mihjan Radhiallahu ‘Anhu. Ditulis dengan tinta emas para ulama Islam, di antaranya Imam Adz Dzahabi dalam Siyar A’lamin Nubala pada Bab Sirah Umar Al Faruq. (2/448. Darul Hadits, Kairo), juga Usudul Ghabah-nya Imam Ibnul Atsir. (6/271. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah) Beliau adalah seorang laki-laki yang sangat sulit menahan diri dari khamr (minuman keras). Beliau sering dibawa kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk diterapkan hukum cambuk (Jild) padanya karena perbuatannya itu. Bahkan Ibnu Jarir menyebutkan Abu Mihjan tujuh kali dihukum cambuk. Tetapi, dia adalah seorang laki-laki yang sangat mencintai jihad, perindu syahid, dan hatinya gelisah jika tidak andil dalam aksi-aksi jihad para sahabat nabi Radhiallahu ‘Anhum. Hingga datanglah perang Al Qadisiyah yang dipimpin oleh Sa’ad bin Abi Waqash Radhiallahu ‘Anhu melawan Persia, pada masa pemerintahan Khalifah Umar Radhiallahu ‘Anhu. Abu Mihjan ikut andil di dalamnya, dia tampil gagah berani bahkan termasuk yang paling bersemangat dan banyak membunuh musuh. Tetapi, saat itu dia dikalahkan keinginannya untuk meminum khamr, akhirnya dia pun meminumnya. Maka, Sa’ad bin Abi Waqash menghukumnya dengan memenjarakannya serta melarangnya untuk ikut jihad. Di dalam penjara, dia sangat sedih karena tidak bisa bersama para mujahidin. Apalagi dari dalam penjara dia mendengar suara dentingan pedang dan teriakan serunya peperangan, hatinya teriris, ingin sekali dia membantu kaum muslimin melawan Persia yang Majusi. Hal ini diketahui oleh istri Sa’ad bin Abi Waqash yag bernama Salma, dia sangat iba melihat penderitaan Abu Mihjan, menderita karena tidak dapat ikut berjihad, menderita karena tidak bisa berbuat untuk agamanya! Maka, tanpa sepengetahuan Sa’ad -yang saat itu sedang sakit, dan dia memimpin pasukan melalui pembaringannya, serta mengatur strategi di atasnya- Beliau membebaskan Abu Mihjan untuk dapat bergabung dengan para mujahidin. Abu Mihjan meminta kepada Salma kudanya Sa’ad yaitu Balqa dan juga senjatanya. Beliau berjanji, jika masih hidup akan mengembalikan kuda dan senjata itu, dan kembali pula ke penjara. Sebaliknya jika wafat memang itulah yang dia cita-citakan. Abu Mihjan berangkat ke medan tempur dengan wajah tertutup kain sehingga tidak seorang pun yang mengenalnya. Dia masuk turun ke medan jihad dengan gesit dan gagah berani. Sehingga Sa’ad memperhatikannya dari kamar tempatnya berbaring karena sakit dan dia takjub kepadanya, dan mengatakan: “Seandainya aku tidak tahu bahwa Abu Mihjan ada di penjara, maka aku katakan orang itu pastilah Abu Mihjan. Seandainya aku tidak tahu di mana pula si Balqa, maka aku katakan kuda itu adalah Balqa.” Sa’ad bin Abi Waqash bertanya kepada istrinya, dan istrinya menceritakan apa yang terjadi sebenarnya pada Abu Mihjan, sehingga lahirlah rasa iba dari Sa’ad kepada Abu Mihjan. Perang usai, dan kaum muslimin menang gilang gemilang. Abi Mihjan kembali ke penjara, dan dia sendiri yang memborgol kakinya, sebagaimana janjinya. Sa’ad bin Waqash Radhiallahu ‘Anhu mendatanginya dan membuka borgol tersebut, lalu berkata: لا نجلدك على خمر أبدا فقال: وأنا والله لا أشربها أبدا Kami tidak akan mencabukmu karena khamr selamanya. Abu Mihjan menjawab: “Dan Aku, Demi Allah, tidak akan lagi meminum khamr selamanya!” Saudaraku …. Sangat sulit bagi kita mengikuti dan menyamai Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan para sahabat nabi yang mulia, Radhiallahu ‘Anhum. Tetapi, paling tidak kita masih bisa seperti Abu Mihjan, walau dia pelaku maksiat namun masih memiliki ghirah kepada perjuangan agamanya, dan ikut hadir dalam deretan nama-nama pahlawan Islam. Semoga Allah Ta’ala memasukkan kita ke dalam deretan para pejuang agamaNya, mengikhlaskan, dan memberikan karunia syahadah kepada kita. Amin. Wallahu A’lam - See more at: http://www.faridnuman.com/2014/02/berjuanglah-untuk-islam-walau-kita.html?m=0#sthash.pH1dHaZV.dpuf
Datangi Sholat Jum'at Segera dan Tinggalkan Kesibukan
19.51
No comments
Oleh
Ustadz Abu Minhal
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ ﴿٩﴾ فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴿١٠﴾ وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انْفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا ۚ قُلْ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ مِنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ ۚ وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allâh dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allâh dan ingatlah Allâh banyak-banyak supaya kamu beruntung. Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: "Apa yang di sisi Allâh lebih baik daripada permainan dan perniagaan", dan Allâh sebaik-baik pemberi rezeki. [al-Jumu'ah/62:9-11].
PENJELASAN AYAT
Allâh Azza wa Jalla memerintahkan para hambaNya kaum Mukminin untuk menghadiri shalat Jum'at, dan bersegera mendatanginya ketika panggilan adzan dikumandangkan. Yang dimaksud dengan { فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ = Bersegeralah kamu kepada mengingat Allâh, shalat Jum'at } adalah memperhatikannya dengan baik dan tidak sibuk sendiri diri dengan yang lain sehingga melalaikannya, bukan maksudnya berjalan cepat (berlari) untuk mendatanginya karena hal itu dilarang oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam saat seseorang mendatangi shalat. Adab mendatangi shalat adalah dengan tenang, tanpa tergesa-gesa. Inilah maksud bersegera untuk mendatangi shalat Jum'at di sini.
Adapun makna firman-Nya: { وَذَرُوا الْبَيْعَ = dan tinggalkanlah jual beli }, pengertiannya dalah tinggalkanlah jual-beli (terlebih dahulu) pada saat kalian diperintahkan untuk mendatangi shalat Jum'at. Apabila Allâh memerintahkan agar perniagaan ditinggalkan padahal merupakan aktifitas yang disukai dan kejar oleh manusia, maka tuntutan meninggalkan kesibukan lainnya lebih besar lagi.
Firman-Nya: { ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ = Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui} hakekat perkara-perkara (yang diperintahkan Allâh Azza wa Jalla) dan dampak positifnya. Kebaikan-kebaikan itu berupa mengikuti perintah Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya, konsentrasi dengan kewajiban shalat Jum'at yang merupakan salah satu kewajiban yang penting, memperoleh kebaikan dan pahala dari shalat itu, balasan-balasan baik berupa kebaikan dan pahala yang ditetapkan oleh syariat atas tindakan bersegera mendatangi shalat Jum'at dan persiapan-persiapan yang dilakukan untuk itu. Selain itu, kebaikan dicapai karena dengan shalat Jum'at tersebut, orang akan meraih keutamaan-keutamaan dan jauh dari hal-hal yang rendah. Sebab di antara perbuatan rendahan, antusias seseorang untuk mengejar yang bersifat rendah (duniawi) dengan mengorbankankan kebaikan yang hakiki (ukhrawi).
Termasuk bentuk kebaikan yang jelas, orang yang mendahulukan perintah Allâh Azza wa Jalla dan mengutamakan perbuataan taat kepada-Nya di atas keinginan nafsunya. Ini jelas merupakan bukti keimanannya dan petunjuk inabahnya kepada Allâh Azza wa Jalla. barang siapa meninggalkan sesuatu karena Allâh Azza wa Jalla , niscaya Allâh Azza wa Jalla akan mengganti yang lebih baik dari itu bagi dirinya . Dan barang siapa lebih mengutamakan memperturutkan hawa nafsunya di atas ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla , sungguh ia telah mengalami kerugian dalam agamanya yang akan diikuti oleh kerugian duniawi.
Perintah meninggalkan jual-beli ini hanya berlangsung sementara sampai shalat Jum'at selesai {فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ = Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi } untuk mencari penghasilan-penghasilan dengan cara yang diperbolehkahn. {وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ = Dan carilah karunia Allâh}: Maksudnya, seharusnya seorang Mukmin yang mendapatkan taufik, saat ia sibuk mencari penghidupan, hendaknya ia berniat agar hasilnya dapat membantu dirinya menjalankan kewajiban ibadah, dengan selalu mengharap pertolongan dari Allâh Azza wa Jalla dalam proses tersebut, mencari karunia dari-Nya, selalu menempatkan sikap raja` dan antusias besar terhadap karunia-Nya di depan matanya. Sebab bergantung kepada Allâh Azza wa Jalla dan 'haus' terhadap keutamaan dari-Nya termasuk bukti keimanan dan termasuk ibadah juga.
Lantaran aktifitas perdagangan sering kali melalaikan orang dari dzikrullâh, Allâh Azza wa Jalla memerintahkan untuk banyak-banyak mengingat-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman : {وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ = Dan ingatlah Allâh banyak-banyak supaya kamu beruntung } : Yaitu saat kalian berdiri, duduk, dan dalam semua aktifitasmu serta seluruh kondisi yang meliputimu. Karena sesungguhnya dzikrullâh merupakan jalan menuju kesuksesan, yaitu teraihnya apa yang yang diidamkan (Jannah) dan selamat dari yang ditakuti (Neraka).
Dalam konteks ini, menjalin muamalah (jual-beli) dengan cara-cara yang baik dan bersikap luhur dengan sesama termasuk dzikrullâh,. Setiap hal yang mendekatkan kepada Allâh Azza wa Jalla termasuk dzikrullâh. Dan setiap perkara dimana seorang hamba mengharapkan pahala kepada Allâh Azza wa Jalla termasuk dzikrullâh,pula. Apabila seseorang tulus dalam muamalahnya yang baik, tidak menipu, sesungguhnya ia telah mendekatkan diri kepada Allâh Azza wa Jalla , sebab Allâh Azza wa Jalla menyukai sikap ini, dan lantaran sikap ini menghindarkan seseorang dari perbuatan yang merugikan orang lain. Setiap kali memudahkan urusan orang dalam jual-beli dengannya, atau memudahkan pembayaran barang dagangan maupun pelunasan utang dan lainnya, itu termasuk perbuatan baik dan utama, dan termasuk dzikrullah.
Adapun firmanNya: {وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انْفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا "Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhutbah)"}: Maksudnya, mereka meninggalkan engkau sendirian di masjid untuk mengejar perniagaan dan hal-hal yang melalaikan, mereka meninggalkan kebaikan yang sedang berlangsung. Sampai-sampai mereka meninggalkan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam khutbah sendirian. Sikap itu mereka lakukan karena kebutuhan mereka yang mendesak terhadap kafilah dagang yang baru tiba di Madinah dan lantaran mereka belum tahu keburukan dan tercelanya tindakan tersebut.
Terkumpulnya dua perkara inilah yang membuat mereka bersikap demikian. Meskipun demikian, mereka tetap orang yang paling cinta kepada kebaikan dan paling semangat untuk mengambil petunjuk dari Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam dan paling besar penghormatan dan pengagungannya kepada beliau. Kondisi seharian mereka menjadi bukti tetsebut. Akan tetapi, seperti ungkapan pepatah, 'setiap kuda pernah tergelincir jatuh'. Kemudian apabila seorang hamba pernah terpeleset dengan berbuat kekeliruan, kemudian ia telah bertaubat, kembali kepada Allâh Azza wa Jalla dan Allâh mengampuni keteledoran itu dan menggantinya dengan kebaikan, maka ia tidak boleh dicela kembali.
Maka katakanlah kepada orang yang lebih suka permainan dan perniagaan, "Apa yang di sisi Allâh lebih baik daripada permainan dan perniagaan" . Bersabar dalam ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla tidak akan menghilangkan rezeki, karena sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla sebaik-baik pemberi rezeki. Barang siapa bertakwa kepada Allâh Azza wa Jalla , niscaya Allâh Azza wa Jalla memberinya rezeki dari tempat yang tidak ia sangka-sangka. Dan siapa saja lebih mengutamakan aktifitas perdagangannya dibandingkan melaksanakan ibadah kepada Allâh Azza wa Jalla , niscaya Allâh Azza wa Jalla tidak akan memberkahi usaha tersebut. Itu menjadi bukti kekosongan hatinya dari usaha mencari karunia dari Allâh Azza wa Jalla dan terputusnya hubungan hatinya dari Allâh Azza wa Jalla , dan hanya mengandalkan usaha pribadi semata. Ini merupakan perbuatan yang benar-benar buruk, hanya akan mendatangkan kerugian.
BEBERAPA PELAJARAN DARI AYAT:
1. Bahwa shalat Jum'at hukumnya wajib bagi kaum lelaki dari kalangan Mukminin. Mereka dituntut untuk bersegera mendatanginya dan memperhatikannnya dengan baik. Dan kebaikan-kebaikan yang ada dalam shalat Jum'at tidak bisa dibandingkan dengan kenikmatan duniawi apapun.
2. Disyariatkannya dua khutbah dalam shalat Jum'at, dan khatib berdiri saat khutbah. Karena firman Allâh : {فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ = Bersegeralah kamu kepada mengingat Allâh } mencakup bersegera mendangi shalat Jum'at dan menyimak khutbah juga. Sebab Allâh Azza wa Jalla mencela orang-orang yang beranjak pergi dari menyimak khutbah.
3. Disyariatkannya adzan Jum'at
4. Larangan berjual-beli setelah adzan Jum'at dikumandangkan.
5. Penetapan kaedah hukum wasilah (sarana, sesuatu) sesuai dengan tujuannya. Jual-beli pada dasarnya mubah, akan tetapi karena menyeret kepada perbuatan meninggalkan kewajiban maka Allâh Azza wa Jalla melarangnya pada saat itu.
6. Dilarangnya berbicara saat khatib berkhutbah. Apabila sibuk dengan jual-beli dan aktifitas serupa lainnya saja dilarang padahal tempatnya lebih jauh dari masjid, maka orang yang berada di masjid tidak boleh sibuk dengan selain menyimak khutbah.
7. Orang yang sedang dalam ibadahnya kemudian ia melihat sesuatu kenikmatan duniawi atau hal lain yang disukai jiwanya, namun akan melalaikan dirinya dari kebaikan ibadah tersebut, hendaknya ia mengingatkan jiwanya dengan apa yang ada di sisi Allâh Azza wa Jalla . Wallâhu a'lam.
(Diadaptasi dari Taisîr al-Lathîf fi al-Mannân fî Khulâsati Tafsîri al-Qur`ân Syaikh 'Allâmah 'Abdur Rahmân bin Nâshir as-Sa'di t (1307-1376H) hlm.69-71 dengan terjemahan bebas)
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XVI/1433H/2012M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
Sumber: www.almanhaj.or.id
3 Pintu Masuk NERAKA
10.34
No comments
Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz
قال الحافظ ابن القيم رحمه الله : “دخل الناس النار من ثلاثة أبواب:
1) باب شبهة أورثت شكاً في دين الله.
2) وباب شهوة أورثت تقديم الهوى على طاعته ومرضاته.
3) وباب غضب أورث العدوان على خلقه”.
انظر: الفوائد – ص105
» Al-Hafizh Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: “Manusia masuk ke dalam neraka melalui tiga pintu (yaitu):
1. Pintu Syubhat (pemikiran yang rancu lagi menyesatkan) yang dapat menimbulkan keraguan terhadap (kebenaran) agama Allah.
2. Pintu Syahwat (gejolak nafsu) yang akan mengakibatkan seseorang lebih mengedepankan hawa nafsunya daripada ketaatan kepada Allah dan upaya menggapai ridho-Nya.
3. Pintu Amarah (emosi) yang akan menimbulkan permusuhan (dan kezholiman) terhadap orang lain.”
(Lihat kitab Al-Fawa-id, karya imam Ibnul Qoyyimhal.105).
Demikian faedah ilmiyah dan mau’izhoh hasanah yg dpt kami sampaikan pd pagi hari ini. Semoga menjadi ilmu yg bermanfaat. Dan semoga Allah melindungi kita semua dari segala keburukan yg akan menjerumuskan kita ke dalam api neraka. Amiin. (Klaten, 23 November 2014).
Sumber: abufawaz.wordpress.com
Sumber: abufawaz.wordpress.com
Ketika Rasullullah Dihina dan Direndahkan
06.16
No comments
Sesungguhnya orang-orang kafir menghina Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau masih hidup.
Mereka mengatakan (bahwa beliau adalah) seorang tukang sihir
Mereka mengatakan (bahwa beliau adalah) orang gila
Mereka mengatakan (bahwa beliau adalah) seorang dukun
Mereka mengatakan (bahwa beliau adalah) seorang pendusta
Mereka mengatakan (bahwa beliau adalah) seorang yang terputus keturunannya
Mereka mengatakan (bahwa beliau adalah) orang yang hina
Mereka mengatakan (bahwa beliau adalah) seorang penyair
Mereka mengatakan … Mereka mengatakan … Mereka mengatakan …
Dan orang-orang kafir terus-menerus menghina dan merendahkan beliaushallallahu ‘alaihi wa sallam.
Lalu apakah hasilnya? Hal itu tidaklah menimbulkan mudharat bagi beliau sedikit pun …
Pada hari ini, celaan dan hinaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu pun terulang kembali. Demi Allah, demi Allah, dan demi Allah, hal itu tidaklah menimbulkan mudharat bagi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sedikit pun. Dan hal itu tidaklah menurunkan kedudukan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallamsedikit pun.
Justru mereka yang menjerumuskan diri mereka sendiri ke dalam kebinasaan dan menyegerakan turunnya hukuman kepada mereka dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Bukankah Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّا كَفَيْنَاكَ الْمُسْتَهْزِئِينَ
“Sesungguhnya kami memelihara kamu dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu)” (QS. Al-Hijr [15]: 95)
Dan juga berfirman,
أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ وَيُخَوِّفُونَكَ بِالَّذِينَ مِنْ دُونِهِ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ
“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya. Dan mereka menakut-nakutimu dengan (sembahan-sembahan) yang selain Allah? Dan siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada seorang pun pemberi petunjuk baginya.” (QS. Az-Zumar [39]: 36)
Janganlah Engkau bersedih, janganlah Engkau khawatir atas apa yang dilakukan oleh orang-orang kafir yang jahat itu.
Bukankah sudah cukup bagi kita, yaitu jaminan dari Allah Ta’ala yang senantiasa melindungi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari orang-orang yang mengolok-olok beliau.
Demi Allah, sesungguhnya perbuatan mereka (orang-orang kafir) itu tidaklah menambah bagi diri kita kecuali kita semakin berpegang teguh dengan Sunnah Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,menjadikan beliau sebagai teladan hidup kita dengan sebenar-benarnya, bukan hanya sebatas pengakuan (klaim) semata. Dan juga (menjadikan kita semakin istiqomah) untuk berjalan di atas jalan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan melaksanakan perintah-perintahnya, baik secara lahir dan batin sesuai dengan kemampuan kita.
Kecintaan kita kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya sebatas ucapan dan klaim semata. (Yaitu) Engkau melaksanakan banyak ajaran (sunnah) Nabi dengan penuh semangat dan antusiasme yang tinggi dalam satu atau dua hari atau satu minggu, dan setelah itu hilang (ditinggalkan) semuanya!!!![1, 2].
Selesai diterjemahkan di Lab EMC Rotterdam NL, ba’da ashar, 29 Rabiul Awwal 1346
Penerjemah: M. Saifudin Hakim
Catatan kaki:
[1] Diterjemahkan dari status facebookSyaikh Dr. Muhammad bin ‘Umar bin Salim Bazmul hafidzahullah pada tanggal 18 Januari 2015 pukul 19:03.
Sumber: muslim.or.id
Langganan:
Postingan (Atom)










.jpg)




