FSI-KU Gallery

FSI-KU punya banyak kegiatan di FBS. Yuk intip kegiatan apa saja yang sudah dilaksanakan FSI-KU mewarnai Fakultas Bahasa dan Seni :)

#GerakanAyoMentoring

#GerakanAyoMentoring yang digalakkan oleh Dept.LCIA di FBS menuai hasil yang Subhanallah. FBS sudah ikut mentoring, bagaimana dengan kamu? Mentoring: Mencerdaskan dan Mensolehkan :)

Pengurus FSI-KU

Bismillah, Assalamulaikum teman-teman sekalian. Mau kenal siapa-siapa saja yang ada didalam kepengurusan FSI-KU FBS UNJ di masa Amanah 2013? yuk taarufan!

Budaya Muslim FBS

Sebagai Kampus Pendidikan, FBS UNJ juga harus punya Budaya Muslim. Yuk kenali apa saja Budaya Muslim di FBS dan jangan lupa dipraktekan ya bro!

Nasyid FSI-KU

FSI-KU punya Nasyid loh! Namanya Nasyid Amoeba. Yuk kenalan siapa saja sih kakak-kakak bersuara merdu ini!

Tampilkan postingan dengan label dakwah fbs. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dakwah fbs. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Juli 2014

IDUL FITRI DAN HALAL BIHALAL







Ada dua hari raya yang dipandang sah dalam Islam, idul fitri dan idul adha. Sedangkan hari-hari besar Islam lain yang biasa diperingati oleh umat Islam Indonesia seperti perayaan tahun baru hijriyah, isra dan mi’raj, maulid Nabi, dan nuzulul Qur’an adalah hari raya “budaya Islam”, bukan hari raya “agama Islam”.
Jika Amerika mengenal ada perayaan “Thanksgiving Day”, yang diperingati setiap tahun pada hari Kamis keempat bulan November, oleh rakyat negeri itu dengan bersuka-ria dan bersyukur kepada Tuhan bersama keluarga, maka di Indonesia ada perayaan “idul fitri”, di mana gerak mudik rakyat Indonesia terdorong kuat untuk bertemu keluarga, ayah-ibu, sanak-saudara yang dikemas dalam budaya silaturrahim dan halal bi halal. 

Makna Idul Fitri
Idul fitri terdiri dari kata ‘id dan al-fithr. Kata ‘id berasal dari akar yang sama dengan kata-kata ‘awdah atau ‘awdatun, ‘aadah atau ‘aadatun dan isti’aadatun. Semua kata tersebut mengandung makna asal “kembali” atau “terulang”. Ungkapan bahasa Indonesia “adat-istiadat” adalah serapan dari bahasa Arab ‘aadat wa isti’aadatun yang berarti sesuatu yang selalu akan terulang dan diharapkan akan terus terulang, yakni sebagai “adat kebiasaan”. Dalam bahasa Arab, hari raya diartikan dengan ‘id, karena ia akan selalu datang kembali berulang-ulang secara periodik setiap tahun. 

Sedangkan al-fithr adalah satu akar dengan kata al-fihtrah, yang berarti “kejadian asal yang suci” atau “kesucian asal”. Secara kebahasaan, fithrah searti dengan khilqah, yaitu ciptaan atau penciptaan. Allah sebagai Maha Pencipta adalah makna dari kata al-Khaliq atau al-Fathir. Dalam perkembangannya, istilah al-fithrah kemudian berarti “penciptaan yang suci”. Dalam pengertian ini, kata Nurcholis Madjid (2000), semua segi kehidupan seperti makan, minum, tidur dan apa saja yang wajar, tanpa berlebihan, pada manusia dan kemanusiaan adalah fithrah. Semua itu bernilai kebaikan dan kesucian karena semuanya itu berasal dari desain penciptaan Tuhan. Karena itu, berbuka puasa atau “kembali makan dan minum” setelah tadinya berpuasa juga disebut ifthar, yang secara harfiah dapat diartikan “memenuhi fitrah” yang suci dan baik. Dengan perkataan lain, makan dan minum adalah baik dan wajar pada manusia, merupakan bagian dari fitrahnya yang suci. Dari sudut pandang ini dapat dimengerti mengapa Islam tidak membenarkan manusia berusaha menempuh hidup suci dengan meninggalkan hal-hal yang wajar seperti makan, minum, tidur, berumah tangga dan lain sebagainya. Dalam hadis sahih riwayat al-Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Saya mendengar bahwa kamu (Abdullah bin ‘Amr bin As) puasa sepanjang siang hari dan bangun untuk selalu salat malam? Benar, Ya Rasulullah. Beliau kemudian mengingatkan dengan sabdanya: “Janganlah berbuat begitu, berpuasalah dan berbukalah, tidurlah dan bangunlah untuk salat malam, karena sesungguhnya bagi tubuhmu ada hak, bagi kedua matamu ada hak, bagi isterimu ada hak dan bagi tamu juga ada hak”. Hadis ini menerangkan bahwa segala tindakan manusia yang meninggalkan kewajaran hidup manusia adalah tindakan melawan fitrah. 

Berangkat dari pemahaman tentang arti idul fitri tersebut, dalam perayaan idul fitri -setelah selesai berpuasa selama bulan Ramadan- terkandung makna kembali kepada hakikat yang wajar dari manusia dan kemanusiaan, yaitu wajar untuk memenuhi keperluan makan dan minum sampai kembalinya manusia kepada fitrah dalam arti mentauhidkan Allah dan hanya ingin berbuat yang baik dan benar. 
Fitrah terkait dengan hanif, artinya suatu sifat dalam diri manusia yang cenderung memihak kepada kebaikan dan kebenaran. Nabi saw bersabda:

الْبِرُّ مَااطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ ، وَاطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ ، وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي الْقَلْبِ، وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ 

Kebaikan itu adalah sesuatu yang membuat hati dan jiwa merasa tenang, sedangkan dosa adalah sesuatu yang membuat hati gelisah dan menimbulkan kebimbangan dalam dada (HR. Ahmad dan lain-lain. Syekh Al-Albani menilai hadis ini hasan) 

Hadis tersebut menerangkan bahwa perbuatan dosa adalah tindakan yang bertentangan dengan hati nurani, tidak sesuai dengan fitrah yang suci. Karena itu, idul fitri dapat berarti kembali kepada hati nurani, yang hanya cenderung kepada kebaikan dan kebenaran sesuai dengan fitrahnya. Keadaan ini hanya bisa diraih oleh orang yang benar-benar telah melatih dirinya dengan ibadah puasa selama bulan Ramadan. Nabi Saw bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa melaksanakan ibadah puasa atas dasar iman dan penuh perhitungan, maka ia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lewat (HR. al-Bukhari dan Muslim) 

Idul fitri berarti kembali kepada kesucian. Kesucian, kata Quraish Shihab (1992), adalah gabungan tiga unsur: benar, baik dan indah. Sehingga, seseorang yang ber-idul fitri dalam arti “kembali ke kesuciannya” akan selalu berbuat yang indah, baik dan benar. Bahkan lewat kesuciannya itu, ia akan memandang segalanya dengan pandangan positif. Ia akan selalu mencari sisi-sisi yang baik, benar dan indah. Mencari yang indah melahirkan seni, mencari yang baik menimbulkan etika dan mencari yanag benar menimbulkan ilmu. Dengan pandangan demikian, ia akan menutup mata terhadap kesalahan, kejelekan dan keburukan orang lain. Kalaupun itu terlihat, selalu dicarinya nilai-nilai positif dalam sikap negatif tersebut. Dan apabila hal itu tak ditemukannya, ia akan memberinya maaf bahkan berbuat baik kepada orang yang melakukan kesalahan. 

Menyambut Idul Fitri
Idul fitri adalah hari raya umat Islam setelah selesai melaksanakan ibadah puasa selama sebulan penuh. Idul fitri artinya kembali kepada kesucian (fitrah). Setiap pribadi muslim yang telah menyelesaikan ibadah puasa dengan dasar iman dan penuh perhitungan, ia akan mendapatkan ampunan atas dosa-dosa yang pernah dilakukan, bagaikan bayi yang baru lahir dari rahim ibunya.( HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Untuk mengagungkan dan memarakkan suasana idul fitri, disunnahkan : 

Pertama, mengagungkan asma Allah dengan melaksanakan “takbiran”, yakni mengumandangkan takbir, tahmid dan taqdis, mulai dari terbenamnya matahari pada malam iduli fitri hingga shalat iduli fitri dilaksanakan; Contoh lafal takbir menurut riwayat Umar dan Ibn Mas’ud (baca Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, I/275) adalah sebagai berikut:

أَللهُ اَكْبَرُ أَللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ أَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Allah Maha Besar Allah Maha Besar, Tidak ada Tuhan kecuali Allah, Allah Maha Besar Allah Maha Besar. Bagi Allahlah segala puji

Kedua, Pada saat hari raya idul fitri di sunnahkan melakukan hal-hal sbb: a). Mandi besar, sebelum shalat idul fitri; b). Memakai pakaian yang baik dan sopan disertai harum-haruman; c). Makan dan minum sekedarnya sebelum berangkat menuju ke tempat shalat idul fitri, sebagai tanda bahwa hari itu sudah tidak puasa; d). Menempuh perjalanan menuju tempat shalat dan kembali dari shalat melalui jalan yang berbeda; e). Melaksanakan shalat sunnah idul fitri dua rakaat secara berjamaah di lapangan; f). Mengadakan silaturrahim (halal bi halal) antara satu dengan yang lain, setelah shalat idul fitri. Dan bila bertemu antara satu dengan yang lain dianjurkan mengucapkan : 

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ

“Semoga Allah berkenan menerima amal-amal kita”
(Sabiq, Fiqhus Sunnah, Vol. I, 274. Baca juga al-Albani, Tamamul Minnah, 335)

Halal bi Halal

Halal bi halal adalah sebuah tradisi yang sudah mengakar di negeri ini. Pelaksanaannya biasa dilakukan setelah shalat idul fitri atau dalam suasana lebaran. Inti dari kegiatan halal bi halal ini adalah sama dengan silaturrahim.
Jika dilihat dari asal-usul istilah halal bi halal, memang tidak ditemukan dalam al-Qur’an maupun al-Hadits. Bahkan dalam kamus bahasa Arab pun tidak ada istilah halal bi halal.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka terdapat keterangan bahwa halal bihalal adalah acara maaf-memaafkan pada hari lebaran. Atas dasar ini, maksud halal bihalal sesuai dengan istilah bahasa Indonesia adalah untuk menciptakan suasana saling memaafkan antara satu dengan yang lain (Tim Penyusun Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia,1989 hal, 293). 


Berdasarkan maksud penyelenggaraan halal bi halal tersebut, ada ulama yang berusaha melakukan identifikasi mengenai asal-usul istilah halal bi halal ini. Menurutnya, istilah halal bi halal ini mungkin diambil dari ungkapan sabda Nabi Saw yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari sbb:“Barangsiapa melakukan penganiayaan (kesalahan) terhadap orang lain, baik menyangkut kehormatan ataupun yang lain, maka hendaknya pada saat itu juga minta dihalalkan/dimaafkan”. (HR. Al-Bukhari)

Pada hadis tersebut terdapat ungkapan bahasa Arab “fal yatahallalhu”, yang artinya hendaknya minta dihalalkan atau dimaafkan. Kata-kata inilah yang diambil oleh ulama Indonesia tempo dulu dalam rangka menciptakan suatu momen di mana antara satu orang dengan yang lain bisa saling memaafkan. Istilah saling halal menghalalkan ini kemudian didekatkan dengan kaidah bahasa Arab sehingga menjadi halal bi halal. 

Dengan demikian, halal bi halal bukanlah asli istilah dari Arab, tetapi sengaja dibuat oleh ulama Indonesia dengan menggunakan kosakata Arab.
Sebenarnya perintah untuk saling halal-menghalalkan atau maaf-memaafkan antara satu dengan yang lain, bukanlah hanya pada saat lebaran atau dalam suasana idul fitri saja, akan tetapi berlaku sepanjang waktu, kapan saja, di mana saja bilamana telah melakukan kesalahan atau penganiayaan kepada orang lain. Imam al-Kahlani al-Shan’ani dalam kitabnya “Subul al-Salam” mengatakan bahwa berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari tersebut menunjukkan “wujub al-istihlal”, yakni kewajiban meminta maaf kepada orang yang didzalimi. 

Mengenai ditempatkannya acara halal bi halal pada suasana lebaran atau suasana idul fitri, hal ini ada hubungannya dengan amalan ibadah puasa. Salah satu bukti orang yang berhasil melakukan ibadah puasa adalah munculnya sikap atau kepribadian yang positif, di antaranya adalah suka memaafkan kepada orang lain. Nah, dengan melakukan halal bi halal yakni saling memaafkan antara satu dengan yang lain, diharapkan hal itu menjadi salah satu bukti keberhasilan ibadah puasanya. Orang inilah yang insya Allah akan benar-benar dapat menikmati hakikat ber-idul fitri.

Minggu, 20 Juli 2014

Menilik Tayangan TV di Bulan Ramadhan


Oleh: Heri Samtani

Ramadhan seringkali menjadi momen bagi acara-acara di stasiun TV untuk bermetamorfosis. Mengubah genre acara menjadi terkesan lebih Islami. Mulai dari acara lawakan sampai acara sinetron tak luput diberi bumbu-bumbu religi. Semua dikemas dengan nuansa Islami ala Ramadhan. Tidak tanggung-tanggung, acara TV berlomba-lomba untuk jadi yang terdepan dan paling menghibur di jam-jam sahur dan berbuka.
Ramadhan seolah menjadi ajang komersial. Karena pada hakikatnya nyawa sebuah program televisi terletak pada periklanan (advertasi). Semakin menarik dan berada pada puncak rating, sebuah acara akan kebanjiran sponsor. Maka tidak jarang, visi sebuah acara lebih mengarah pada suatu hal yang bersifat komersial, dengan mengesampingkan nilai-nilai keIslaman yang lebih kuat.

Sebut saja misalnya, acara lawak, yang tampak mendominasi layar kaca di sepanjang bulan suci Ramadhan. Hampir semua acara lawak dibubuhi kuis yang berdaya persuasif-konsumtif tinggi dengan pertanyaan-pertanyaan Islami yang klise. Selain itu, acara lawak sendiri akhir-akhir ini tengah mendapat peringatan keras dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Memang acara lawak yang biasa menghadirkan sejumlah guyonan slapstik dan seringkali berisi celaan pada kaum difabel, orang tua dan mengumpat kemiskinan. Tayangan semacam ini rasanya kurang pantas jika disisipkan dalam menu hiburan menjelang berbuka dan saat sahur.
Selain itu, tayangan sinetron juga lebih marak di bulan suci ramadhan. Dengan kemasan yang lebih Islami. Meskipun porsi religiusitasnya kurang ditonjolkan. Dan justru lebih menekankan unsur hiburan. Sehingga tidak jarang, sinetron Islami hanya sebatas kemasan luarnya saja yang Islami, dan belum mampu menyajikan unsur dakwah yang sesuai harapan pemirsa.

Hal yang paling ironis seputar tayangan TV di bulan Ramadhan adalah masih bermunculannya acara infotainment. Meskipun dengan penambahan porsi berita seputar ramadhan yang insya Allah jauh dari kemudharatan, namun, porsi gosip (ghibah-nya) masih mendominasi.

Akhir-akhir ini, mulai bermunculan sejumlah ajang pencarian bakat yang ditayangkan selama bulan Ramadhan. Kehadirannya cukup memberikan motivasi baru dan menggugah semangat untuk lebih banyak mengkaji nilai-nilai agama Islam. Bahkan, acara pencarian bakat penghafal (hafidz) Qur’an yang ditayangkan pada salah satu stasiun TV swasta sanggup memberikan tamparan keras di batin kaum muslimin. Selain itu, banyak juga bermunculan tayangan yang mengkaji peradaban Islam dan memberikan informasi bernilai historis.

Apapun bentuk tayangan di stasiun TV selama Ramadhan, sudah sepantasnya kita bersifat selektif. Jangan sampai terjerat dalam lingkar hiburan yang kurang berfaedah. Jangan sampai hiburan melenyapkan detik-detik kita untuk beramal shaleh di bulan yang penuh berkah ini. Di bulan yang telah lama kita rindukan.
Allah berfirman,
إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا


Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra’: 36)

Ramadhan Mencekam di Negara Konflik

Oleh : Heri Samtani





Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun..
Dan Demi bukit Sinai..
(Q.S. At-Tin: 1-2)


Bulan suci Ramadhan menjadi momentum bagi kaum muslim untuk mendulang berkah. Menebarkan amal-amal shalih di muka bumi. Berlomba-lomba untuk menjadi yang terdepan dalam beribadah. Namun, bulan Ramadhan di negara-negara konflik tentu takkan sama rasanya dengan bulan Ramadhan di negara-negara lain,_yang dalam situasi damai. Sebut saja Palestina, lebih dari 65 tahun, negara tersebut harus hidup di bawah kaki penjajahan zionis Israel. Beragam catatan kekejaman telah terukir di negeri Zaitun tersebut. Ramadhan tentu menjadi puncak perjuangan melawan rasa lapar. Lapar karena blokade ekonomi. Karena sekat-sekat pemisah kehidupan Palestina dengan dunia luar. Pemberlakuan jam malam yang menyiksa. Kamp-kamp pemeriksaan yang mencekam dengan senapan tentara yang selalu standby di genggaman tangan. Hingga detik ini, Palestina masih terdera di balik lambaian bendera Israel yang semakin kokoh berkibar.

Begitupun dengan Mesir yang masih menyisakan sisa-sisa konflik di batin para pendukung Mursi. Dengan naik takhtanya El-Sisi sebagai presiden baru Mesir, tentu bukan suatu hal yang menggembirakan bagi sebagian pendukung Mursi. Sang presiden baru adalah orang yang paling berpengaruh terhadap runtuhnya kekuasaan Mursi (sebagai presiden yang dipilih secara demokratis). Ramadhan di Mesir tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya. Dengan lentera yang menyala penuh kemeriahan dan semangat menjalani bulan Ramadhan. Apa yang terjadi di Mesir, dengan gejolak demokrasi yang ironis. Dengan pondasi keadilan yang rapuh, dan bentuk kekejaman pada ikhwanul muslimin telah menyisakan kepedihan yang mendalam.
Sementara di Suriah, bombardir pesawat tempur, rudal, artileri berat, dan hujan bom barel masih menghiasi negeri buah Tin tersebut. Rezim Al-Assad dibantu milisi Syiah dari Lebanon, Iran dan Iraq tak henti-hentinya melancarkan aksi kekejaman terhadap kaum sunni.

Mungkinkah ramadhan tahun ini akan sama dengan ramdhan sebelumnya? Ramadhan di tengah suasana mencekam. Konflik yang tak pernah usai. Dan tetes air mata pemilik negeri tak pelak menemukan muaranya. Setiap detik di Suriah bagaikan lorong menuju kematian.

Mengutip dari laman Nora News pada Ramadhan 2013 silam;

“jika anda berada di Argentina, anda akan berpuasa 5 jam, jika Anda di Swedia, anda akan berpuasa 20 jam, Jika di Afrika, anda akan berpuasa 10 jam, jika di  Perancis, anda akan berpuasa 19 jam, dan jika anda berada di Suriah, Anda akan berpuasa dan berbuka puasa di Surga,” tullis Nora News.

Jumat, 28 Maret 2014

Musyawarah Kerja FSIKU 2014



FSIKU - Sabtu, 22 Maret 2014 FSI-KU (Forum Studi Islam Khidmatul Ummah) FBS UNJ melaksanakan kegiatan Musyawarah kerja. Acara ini dibuka pukul 06.30 bertempat di Masjid Nurul Irfan UNJ, lantai dua. Acara dimulai dengan pembukaan kemudian Ust. Aceng Rahmat, selaku dekan FBS memberikan taujih dan motivasi yang luar biasa membangkitkan semangat peserta dan beliau juga mempercayakan FSI-KU untuk kegiatan dakwah di  FBS. Ust. Aceng Rahmat juga berharap FSI-KU dapat lebih berbaur dengan semua golongan di FBS. Beliau juga menerangkan tentang rencana renovasi Mushala FSI-KU . Walaupun masih pagi, para peserta sudah banyak yang datang dengan semangat. 

Semakin siang, mulai banyak peserta yang datang. Para peserta melakukan shalat dhuha dan Khatmul Quran, masing-masing peserta membaca setengah juz. 

Acara dianjutkan dengan pembacaan fokus kerja masing-masing departemen. Diawali oleh Bendahara (Himma ED'12), Biro Kestari (Mutia, ED '12), Dept. Kaderisasi (Fadhilla JBSI '11), biro wirausaha (Nindya, ED '12), dept. Syiar (Faishal JBSA '11), dept. ILC (Dini, JBSA '10) dan dept. MCNR (Nuha JBSA '11) disertai tanya jawab tentang rencana kerja masing-masing biro dan departemen. Pembacaan focus kerja semakin hidup dan khidmat ketika departemen ILC memutar video tentang dakwah yang membuat kita semakin mencintai dakwah di FSI-KU.  






Ketika masuk waktu dzuhur, acara diistirahatkan untuk shalat dan makan siang. Para peserta makan bersama di selasar MNI diliputi canda tawa, sehingga silaturahmi antar pengurus semakin bersahabat.
 

Setelah shalat dzuhur, acara dilanjutkan kembali dengan pembacaan rencana kerja dari biro Muslimah (Habibah), Mas’ulah FSI-KU (Nurul) dan Mas’ul FSI-KU (Fariz) dengan menampilkan video tentang peristiwa di Suriah yang membuat semua peserta sedih sekaligus bersemangat kembali dalam menapaki jalan dakwah yang tidak akan mudah. 

Acara dilanjutkan seusai shalat Ashar dengan sambutan dari Mas’ul FSI-KU dan ditutup dengan saran atau masukan dari MSO FSI-KU yang hadir. Setelah pembacaan do’a, acara terakhir seluruh pengurus FSI-KU berfoto bersama di depan Tugu UNJ.
Semoga dakwah ini selalu istiqomah dengan orang-orang yang punya semangat berapi-api dalam kerja FSI-KU satu tahun kedepan. Allahuakbar! 



Sabtu, 16 November 2013

SALIM EXPO-KU 2013


Assalamualaikum,
SALIM EXPO-KU 2013 (4-6 Desember 2013)

Yuk tengok acaranya hanya di @Taman Fakultas Bahasa dan Seni di Universitas Negeri Jakarta

Ada apaan aja sih? Yuk intip Jadwalnya :

Rabu, 4 Desember 2013

-Pembukaan SALIM EXPO-KU 2013
-Pengenalan SALIM EXPO-KU 2013
-Penampilan Nasyid FSI-KU : Amoeba

Kamis, 5 Desember 2013
-Festival Seni UNJ : Penampilan seni dari 9 Jurusan dan 4 Ormawa FBS UNJ
-Sarahsehan "Seni dalam Islam " Pembicara : Dik Doank

Jumat, 6 Desemeber 2013
-Talkshow Akhwat "Peran Muslimah dalam Dunia Seni" Pembicara: Astri Ivo
-Baksos bersama IZIZ
-Tabligh Akbar : Drs. Tb. AHmad Zakky Syam
-Penutupan SALIM EXPO-KU 2013
Ada apa lagi?
Ada Perlombaan Fotografi dan Desain Poster yang berlangsung dari 17 November-30 November 2013
dan dipamerkan di acara Salim EXPO-KU 2013. Yuk ikuti lombanya dan ramaikan acaranya, Hanya di #salimexpoku2013

Lomba Desain POSTER : SALIM EXPOKU 2013


PESERTA : Pelajar, Mahasiswa, Umum

Syarat dan Ketentuan
1. Desain poster Digital/Illustrasi
2. Karya dibuat sesuai dengan tema
- "Islam Ceria"
- "Mengukir Seni dalam Islam"
- Ukhuwah Islami


3.Karya dikimkan sesuai pilihan tema
4.karya harus asli, dan belum pernah dipublikasikan
5. Karya dibuat melalui komputer grafis, berukuran A3
6. Semua karya akan dicetak dan ditampilkan pada pameran SALIM EXPO-KU 2013 di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta

TEKNIS PENDAFTARAN
1. Peserta membayar biaya pendaftaran sebesar Rp. 5000
2. Peserta mendaftar dengan format : Nama_Sekolah/Instansi/Univ_Domisili_No.hp_Jenis lomba kirim ke 085780228088
3. Peserta lomba dapat mengirimkan karyanya dengan format JPEG ke dakwahfsiku@yahoo.com dengan judul "Lomba Desain poster SALIM EXPO-KU"
4. Peserta lomba wajib melampirkan biodata dengan pengiriman lewat email. terdiri dari: Nama lengkap, Pekerjaan (SMA/Mahasiswa/Umum), alamat lengkap, nomor hp 

Lomba Fotografi Islami : SALIM EXPO-KU 2013

Assalamulaykum, FSI-KU FBS UNJ dan SALIM FBS UNJ Proudly Presents: 


 LOMBA FOTOGRAFI ISLAMI
Syarat Peserta
1. Peserta umum
2. Peserta membayar uang pendaftaran Rp. 5.000/lomba
3. Memilih tema karya foto :
- "Indahnya Ukhuwah Islam"
- "Potret Islam dalam Seni"

4. Foto yang dikirimkan merupakan karya perorangan bukan karya kelompok;
5. Peserta diperbolehkan mengirim lebih dari satu karya
6. Peserta mendaftarkan diri via sms dengan format: nama_sekolah/Instansi/Univ_domisili_no.hp_jenis lomba kirim ke 085780228088

Kriteria Foto
1. Jenis kamera yang digunakan bebas (baik kamera pocket, kamera HP atau kamera DSLR)
2. Format file JPEG
3. High Resolution
4. Olah digital diperbolehkan, sebatas perbaikan kualitas foto (Sharpening, cropping, color balance, dogde/burn dan saturasi warna) tanpa mengubah keaslian objek
5. Foto adalah hak milik pribadi (bukan karya orng lain), belum pernah dipublikasikan ke media massa apapun dan belum pernah diikutsertakan dalam lomba apapun
6. Ukuran foto sebesar 10R


Seluruh karya akan ditampilkan dalam Pameran Foto dan Poster SALIM EXPO-KU 2013

Ketentuan Pengiriman
1. Karya dikirim melalui email ke dakwahfsiku@yahoo.com dengan subjek "Lomba Fotografi Salim EXPO-KU"
2. Informasi lebih lanjut dapat menghubungi contact person : 085780228088
3. Batas Akhir penerimaan Foto : 30 November 2013 

Kamis, 14 November 2013

Kupas LEBAHKU #Muharrom 1435 H

Edisi Nopember 2013
Selamat Pagi
Guten Morgen
Bonjour
Good Morning
صباح الخير
Buongiorno
おはようございます
Sabah Iyi

kali ini ada persembahan baru dari MCNR FSIKU
LEBAHKU (Lembar Hikmah Dari FSIKU) hadir kembali dengan tulisan penuh hikmah didalamnya sebagai apresiasi hari pahlawan kemarin (10 Nopember). dan berhubung UNJ merupakan kampus pendidikan ternyata ada Hari Guru Nasional juga yang tepatnya jatuh pada tanggal 25 Nopember. belum lagi ternyata dibulan ini pula bertepatan dengan tahun baru islam 1 Muharrom 1435 H...
wah subhanallah keren keren
kali ini saya akan coba untuk membahas salah satu isi dari buletin yang diterbitkan oleh MCNR FSIKU dengan judul:
 *********HAPPY ISLAMIC NEW YEAR 1435*********


SELAMAT MEMBACA...

Tahun Baru Islam 1435 Hijriyah, Hari ini Selasa 5 November 2013 bertepatan dengan tanggal 1 Muharram untuk kelender Hijriyah tahun 1435 H. Sebagai ummat Islam tahun baru Hijriyah adalah tahun yang sangat bersejarah dalam perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW menyebarkan agama Islam. Dakwah nabi atau ajakan Nabi untuk menyelamatkan ummat waktu dari bathil menjadi haq adalah sebuah perjuangan yang bukan tanpa tantangan. Tantangannya sangat berat, tantangan Nabi dalam menyebarkan ajaran Islam tidak hanya datang dari orang-orang yang jauh dari beliau, tapi bahkan tantangan tersebut datang dari orang-orang yang notabene sangat dekat secara kekeluargaan, termasuk paman beliau yang sangat menentang terhadap ajaran Islam adalah Abu Jahal dan Abu Lahab. Dakwah adalah sebuah ajakan. Ditolak oleh yang bukan keluarga ketika kita ajak, mungkin masih bisa kita tahan untuk sabar. Tapi kalau sudah keluarga yang menolak ketika kita ajak untuk beragama Islam, maka itu adalah sebuah tantangan yang sangat berat.

Bila mengenang ini semua sangat besar tantangan Nabi dalam menyebarkan Islam. Sudah sepantasnya bagi ummat Islam untuk selalu mengingat beliau, salah satunya dengan cara membacakan shalawat untuk Nabi. Jika mengingat jasa beliau yang telah membawa keselamatan, Islam, maka berapapun shalawat yang kita kumandangkan tidak akan sebanding. Adalah sangat memperihatinkan jika berbagai pihak mengatakan bahwa membaca perintah shalawat adalah dalam rangka menyelamatkan Nabi Muhammad SAW dari api neraka. Bukan. Sekali lagi bukan itu. Membaca shalawat adalah perintah Allah. Maka kita wajib patuh dan tunduk.

Memasuki tahun baru Islam, 1 Muharram 1435 H, menjadi momentum bagi kita semua umat Islam untuk melakukan interospeksi secara kolektif, guna melakukan perubahan dari keadaan yang kurang baik menjadi lebih baik sebagai revitalisasi hijrah. Meningkatkan spritualitas dan kesadaran keagamaan menjadi keniscayaan umat Islam Indonesia, terutama ketika bangsa ini dihadapkan dengan berbagai musibah yang sepatutnya direnungkan sebagai momentum menguji kualitas keimanan dan keberislamannya dan patut direnungi untuk diambil hikmahnya.


Semoga di masa mendatang, Allah akan memberikan jalan yang lebih luas, rizki lebih luas dan ilmu lebih luas.


Salam redaksi


#Jayanti, Suci, Ani
^v^          


Selasa, 12 November 2013

S.E.N.Y.U.M

KEEP SMILE :) 
      
تَبَسُّمُك فِيْ وَجْه أَخِيْك صَدَقَة


#  Senyumu dihadapan saudaramu adalah shodaqoh  #



Bagaiman kita membuat hal-hal sulit agar berlalu lebih cepat?
Caranya, tetap berada di momen kini. Ketika kita bermeditasi, kita tetap berada dalam momen kini, kita tidak merisaukan masa depan. Bertahan seperti ini sangatlah mudah, namun masih belum cukup.
Kunci keberhasilan meditasi adalah menaruh sukacita dalam meditasi. Itulah sebabnya kepada orang-orang yang mulai bermeditasi, saya minta mereka sadar akan tubuh mereka,sadar akan mulut mereka, lalu naikkan ujungnya.

 Ya, senyumlah sedikit. 

Nah,meditasi akan jadi lebih mudah.

Saya mengetahui hal ini pertama kali ketika saya mahasiswa. Saya bukan tipe pelajar olahragawan. Bagi saya, olahraga itu menyenangkan, sampai beberapa orang mulai jadi terlaluserius menanggapi olahraga, dan saya tak pernah bisa mengerti kenapa mereka demikian. Namun, suatu hari, saya ada dalam perahu, di tengah sungai, bersama delapan pria lain, satu orang pengatur tempo dan tujuh pendayung. Kami sedang dalam balap perahu. Dan astaga, begitu jauh kami harus mengayuh! Ketika barusetengah jarak tempuh, saya tidak tahan lagi. Saya tak punya sisa tenaga lagi untuk mengayuh dayung ini.

Pada saat itu, jika andapernah melihat balap perahu, selalu ada pelatih yang naik sepeda di jalanan ditepi sungai. 
Pelatih saya meneriaki saya dari tepian,

 “kamu bikin wajahmu jadi jelek amat sih?
 Senyum!”

Mungkin saya memangmembuat wajah yang jelek. Kadang ketika kita bangkit dari meditasi, sebagiandari kita pun membuat wajah yang jelek-cukup untuk membuat guru kita jadikesal. Tapi pelatih saya bilang,

 ”Senyum!
 Nyengir!”

Setidaknya saat itu saya masih muda, saya cukup lunak dan terbuka untuk menerima saran. Jadi saya melakukannya, saya tersenyum, nyengir, dan segera dayaung punjadi lebih mudahdikayuh. Saya mendapat lebih banyak tenaga. Semuanya jadi lebih baik.

Para pelatih tahu trikini, tapi tahukah anda bahwa trik ini bisa kita gunakan sendiri dalam hidupkita?
 Jika hidup kita menjadi sulit, bubuhkan suka cita dan kesenangan dalam hidup anda. Jika anda bisa menaruh senyum di dalamnya, hidup akan menjadi lebihbaik.

Sumber: Buku “Si Cacingdan Kotoran Kesayangannya 2!” karangan Ajahn Brahm
#Nusaibah