FSI-KU Gallery

FSI-KU punya banyak kegiatan di FBS. Yuk intip kegiatan apa saja yang sudah dilaksanakan FSI-KU mewarnai Fakultas Bahasa dan Seni :)

#GerakanAyoMentoring

#GerakanAyoMentoring yang digalakkan oleh Dept.LCIA di FBS menuai hasil yang Subhanallah. FBS sudah ikut mentoring, bagaimana dengan kamu? Mentoring: Mencerdaskan dan Mensolehkan :)

Pengurus FSI-KU

Bismillah, Assalamulaikum teman-teman sekalian. Mau kenal siapa-siapa saja yang ada didalam kepengurusan FSI-KU FBS UNJ di masa Amanah 2013? yuk taarufan!

Budaya Muslim FBS

Sebagai Kampus Pendidikan, FBS UNJ juga harus punya Budaya Muslim. Yuk kenali apa saja Budaya Muslim di FBS dan jangan lupa dipraktekan ya bro!

Nasyid FSI-KU

FSI-KU punya Nasyid loh! Namanya Nasyid Amoeba. Yuk kenalan siapa saja sih kakak-kakak bersuara merdu ini!

Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Juli 2014

IDUL FITRI DAN HALAL BIHALAL







Ada dua hari raya yang dipandang sah dalam Islam, idul fitri dan idul adha. Sedangkan hari-hari besar Islam lain yang biasa diperingati oleh umat Islam Indonesia seperti perayaan tahun baru hijriyah, isra dan mi’raj, maulid Nabi, dan nuzulul Qur’an adalah hari raya “budaya Islam”, bukan hari raya “agama Islam”.
Jika Amerika mengenal ada perayaan “Thanksgiving Day”, yang diperingati setiap tahun pada hari Kamis keempat bulan November, oleh rakyat negeri itu dengan bersuka-ria dan bersyukur kepada Tuhan bersama keluarga, maka di Indonesia ada perayaan “idul fitri”, di mana gerak mudik rakyat Indonesia terdorong kuat untuk bertemu keluarga, ayah-ibu, sanak-saudara yang dikemas dalam budaya silaturrahim dan halal bi halal. 

Makna Idul Fitri
Idul fitri terdiri dari kata ‘id dan al-fithr. Kata ‘id berasal dari akar yang sama dengan kata-kata ‘awdah atau ‘awdatun, ‘aadah atau ‘aadatun dan isti’aadatun. Semua kata tersebut mengandung makna asal “kembali” atau “terulang”. Ungkapan bahasa Indonesia “adat-istiadat” adalah serapan dari bahasa Arab ‘aadat wa isti’aadatun yang berarti sesuatu yang selalu akan terulang dan diharapkan akan terus terulang, yakni sebagai “adat kebiasaan”. Dalam bahasa Arab, hari raya diartikan dengan ‘id, karena ia akan selalu datang kembali berulang-ulang secara periodik setiap tahun. 

Sedangkan al-fithr adalah satu akar dengan kata al-fihtrah, yang berarti “kejadian asal yang suci” atau “kesucian asal”. Secara kebahasaan, fithrah searti dengan khilqah, yaitu ciptaan atau penciptaan. Allah sebagai Maha Pencipta adalah makna dari kata al-Khaliq atau al-Fathir. Dalam perkembangannya, istilah al-fithrah kemudian berarti “penciptaan yang suci”. Dalam pengertian ini, kata Nurcholis Madjid (2000), semua segi kehidupan seperti makan, minum, tidur dan apa saja yang wajar, tanpa berlebihan, pada manusia dan kemanusiaan adalah fithrah. Semua itu bernilai kebaikan dan kesucian karena semuanya itu berasal dari desain penciptaan Tuhan. Karena itu, berbuka puasa atau “kembali makan dan minum” setelah tadinya berpuasa juga disebut ifthar, yang secara harfiah dapat diartikan “memenuhi fitrah” yang suci dan baik. Dengan perkataan lain, makan dan minum adalah baik dan wajar pada manusia, merupakan bagian dari fitrahnya yang suci. Dari sudut pandang ini dapat dimengerti mengapa Islam tidak membenarkan manusia berusaha menempuh hidup suci dengan meninggalkan hal-hal yang wajar seperti makan, minum, tidur, berumah tangga dan lain sebagainya. Dalam hadis sahih riwayat al-Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Saya mendengar bahwa kamu (Abdullah bin ‘Amr bin As) puasa sepanjang siang hari dan bangun untuk selalu salat malam? Benar, Ya Rasulullah. Beliau kemudian mengingatkan dengan sabdanya: “Janganlah berbuat begitu, berpuasalah dan berbukalah, tidurlah dan bangunlah untuk salat malam, karena sesungguhnya bagi tubuhmu ada hak, bagi kedua matamu ada hak, bagi isterimu ada hak dan bagi tamu juga ada hak”. Hadis ini menerangkan bahwa segala tindakan manusia yang meninggalkan kewajaran hidup manusia adalah tindakan melawan fitrah. 

Berangkat dari pemahaman tentang arti idul fitri tersebut, dalam perayaan idul fitri -setelah selesai berpuasa selama bulan Ramadan- terkandung makna kembali kepada hakikat yang wajar dari manusia dan kemanusiaan, yaitu wajar untuk memenuhi keperluan makan dan minum sampai kembalinya manusia kepada fitrah dalam arti mentauhidkan Allah dan hanya ingin berbuat yang baik dan benar. 
Fitrah terkait dengan hanif, artinya suatu sifat dalam diri manusia yang cenderung memihak kepada kebaikan dan kebenaran. Nabi saw bersabda:

الْبِرُّ مَااطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ ، وَاطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ ، وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي الْقَلْبِ، وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ 

Kebaikan itu adalah sesuatu yang membuat hati dan jiwa merasa tenang, sedangkan dosa adalah sesuatu yang membuat hati gelisah dan menimbulkan kebimbangan dalam dada (HR. Ahmad dan lain-lain. Syekh Al-Albani menilai hadis ini hasan) 

Hadis tersebut menerangkan bahwa perbuatan dosa adalah tindakan yang bertentangan dengan hati nurani, tidak sesuai dengan fitrah yang suci. Karena itu, idul fitri dapat berarti kembali kepada hati nurani, yang hanya cenderung kepada kebaikan dan kebenaran sesuai dengan fitrahnya. Keadaan ini hanya bisa diraih oleh orang yang benar-benar telah melatih dirinya dengan ibadah puasa selama bulan Ramadan. Nabi Saw bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa melaksanakan ibadah puasa atas dasar iman dan penuh perhitungan, maka ia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lewat (HR. al-Bukhari dan Muslim) 

Idul fitri berarti kembali kepada kesucian. Kesucian, kata Quraish Shihab (1992), adalah gabungan tiga unsur: benar, baik dan indah. Sehingga, seseorang yang ber-idul fitri dalam arti “kembali ke kesuciannya” akan selalu berbuat yang indah, baik dan benar. Bahkan lewat kesuciannya itu, ia akan memandang segalanya dengan pandangan positif. Ia akan selalu mencari sisi-sisi yang baik, benar dan indah. Mencari yang indah melahirkan seni, mencari yang baik menimbulkan etika dan mencari yanag benar menimbulkan ilmu. Dengan pandangan demikian, ia akan menutup mata terhadap kesalahan, kejelekan dan keburukan orang lain. Kalaupun itu terlihat, selalu dicarinya nilai-nilai positif dalam sikap negatif tersebut. Dan apabila hal itu tak ditemukannya, ia akan memberinya maaf bahkan berbuat baik kepada orang yang melakukan kesalahan. 

Menyambut Idul Fitri
Idul fitri adalah hari raya umat Islam setelah selesai melaksanakan ibadah puasa selama sebulan penuh. Idul fitri artinya kembali kepada kesucian (fitrah). Setiap pribadi muslim yang telah menyelesaikan ibadah puasa dengan dasar iman dan penuh perhitungan, ia akan mendapatkan ampunan atas dosa-dosa yang pernah dilakukan, bagaikan bayi yang baru lahir dari rahim ibunya.( HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Untuk mengagungkan dan memarakkan suasana idul fitri, disunnahkan : 

Pertama, mengagungkan asma Allah dengan melaksanakan “takbiran”, yakni mengumandangkan takbir, tahmid dan taqdis, mulai dari terbenamnya matahari pada malam iduli fitri hingga shalat iduli fitri dilaksanakan; Contoh lafal takbir menurut riwayat Umar dan Ibn Mas’ud (baca Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, I/275) adalah sebagai berikut:

أَللهُ اَكْبَرُ أَللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ أَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Allah Maha Besar Allah Maha Besar, Tidak ada Tuhan kecuali Allah, Allah Maha Besar Allah Maha Besar. Bagi Allahlah segala puji

Kedua, Pada saat hari raya idul fitri di sunnahkan melakukan hal-hal sbb: a). Mandi besar, sebelum shalat idul fitri; b). Memakai pakaian yang baik dan sopan disertai harum-haruman; c). Makan dan minum sekedarnya sebelum berangkat menuju ke tempat shalat idul fitri, sebagai tanda bahwa hari itu sudah tidak puasa; d). Menempuh perjalanan menuju tempat shalat dan kembali dari shalat melalui jalan yang berbeda; e). Melaksanakan shalat sunnah idul fitri dua rakaat secara berjamaah di lapangan; f). Mengadakan silaturrahim (halal bi halal) antara satu dengan yang lain, setelah shalat idul fitri. Dan bila bertemu antara satu dengan yang lain dianjurkan mengucapkan : 

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ

“Semoga Allah berkenan menerima amal-amal kita”
(Sabiq, Fiqhus Sunnah, Vol. I, 274. Baca juga al-Albani, Tamamul Minnah, 335)

Halal bi Halal

Halal bi halal adalah sebuah tradisi yang sudah mengakar di negeri ini. Pelaksanaannya biasa dilakukan setelah shalat idul fitri atau dalam suasana lebaran. Inti dari kegiatan halal bi halal ini adalah sama dengan silaturrahim.
Jika dilihat dari asal-usul istilah halal bi halal, memang tidak ditemukan dalam al-Qur’an maupun al-Hadits. Bahkan dalam kamus bahasa Arab pun tidak ada istilah halal bi halal.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka terdapat keterangan bahwa halal bihalal adalah acara maaf-memaafkan pada hari lebaran. Atas dasar ini, maksud halal bihalal sesuai dengan istilah bahasa Indonesia adalah untuk menciptakan suasana saling memaafkan antara satu dengan yang lain (Tim Penyusun Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia,1989 hal, 293). 


Berdasarkan maksud penyelenggaraan halal bi halal tersebut, ada ulama yang berusaha melakukan identifikasi mengenai asal-usul istilah halal bi halal ini. Menurutnya, istilah halal bi halal ini mungkin diambil dari ungkapan sabda Nabi Saw yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari sbb:“Barangsiapa melakukan penganiayaan (kesalahan) terhadap orang lain, baik menyangkut kehormatan ataupun yang lain, maka hendaknya pada saat itu juga minta dihalalkan/dimaafkan”. (HR. Al-Bukhari)

Pada hadis tersebut terdapat ungkapan bahasa Arab “fal yatahallalhu”, yang artinya hendaknya minta dihalalkan atau dimaafkan. Kata-kata inilah yang diambil oleh ulama Indonesia tempo dulu dalam rangka menciptakan suatu momen di mana antara satu orang dengan yang lain bisa saling memaafkan. Istilah saling halal menghalalkan ini kemudian didekatkan dengan kaidah bahasa Arab sehingga menjadi halal bi halal. 

Dengan demikian, halal bi halal bukanlah asli istilah dari Arab, tetapi sengaja dibuat oleh ulama Indonesia dengan menggunakan kosakata Arab.
Sebenarnya perintah untuk saling halal-menghalalkan atau maaf-memaafkan antara satu dengan yang lain, bukanlah hanya pada saat lebaran atau dalam suasana idul fitri saja, akan tetapi berlaku sepanjang waktu, kapan saja, di mana saja bilamana telah melakukan kesalahan atau penganiayaan kepada orang lain. Imam al-Kahlani al-Shan’ani dalam kitabnya “Subul al-Salam” mengatakan bahwa berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari tersebut menunjukkan “wujub al-istihlal”, yakni kewajiban meminta maaf kepada orang yang didzalimi. 

Mengenai ditempatkannya acara halal bi halal pada suasana lebaran atau suasana idul fitri, hal ini ada hubungannya dengan amalan ibadah puasa. Salah satu bukti orang yang berhasil melakukan ibadah puasa adalah munculnya sikap atau kepribadian yang positif, di antaranya adalah suka memaafkan kepada orang lain. Nah, dengan melakukan halal bi halal yakni saling memaafkan antara satu dengan yang lain, diharapkan hal itu menjadi salah satu bukti keberhasilan ibadah puasanya. Orang inilah yang insya Allah akan benar-benar dapat menikmati hakikat ber-idul fitri.

Hukum Takbiran [Takbir Jama'i]


Oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz rahimahullah

Saya telah menelaah apa yang disebarkan oleh Fadhilah Al-Akh Syaikh Ahmad bin Muhammad Jamal –semoga Allah menujukannya kepada yang diridhai-Nya. Yaitu yang dimuat di sebagian Koran lokal, tentang penilaiannya yang menganggap aneh pelarangan takbir jama’i di masjid-masjid sebelum shalat Ied, dengan anggapan bahwa amalan ini merupakan bid’ah yang wajib dilarang. Syaikh Ahmad dalam makalahnya tersebut berusaha untuk memberikan dalil, bahwa takbir jama’i bukan bid’ah dan tidak boleh dilarang. Dan pandangannya ini di dukung oleh sebagian penulis lain.
Karena khawatir persoalan ini menjadi kabur bagi orang yang tidak mengetahui hakikat masalahnya, maka saya ingin menjelaskannya. Bahwasanya hukum asal takbir pada malam Ied, sebelum shalat Iedul Fithri, sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, dan pada hari-hari tasyriq merupakan amalan yang di syariatkan pada waktu-waktu yang utama ini. Pada amalan tersebut terdapat keutamaan yang banyak, karena firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang takbir Iedul Fithri.
“Artinya : Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangan dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjukNya yang diberikan kepadamu dan agar kamu bersyukur” [Al-Baqarah : 185]
Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dan pada hari-hari tasyriq.
“Artinya : Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka, dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang dimaklumkan (ditentukan) atas rizki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak” [Al-Hajj : 28]
Dan firman Allah Azza wa Jalla.
“Artinya : Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang ma’dudat (yang berbilang)” [Al-Baqarah: 203]
Diantara dzikir yang masyru pada hari-hari yang ma’lumat (ditentukan) dan hari-hari yang ma’dudat (yang berbilang) ini ialah takbir muthlaq dan takbir muqayyad, sesuai yang ada dalam sunnah muthahharah dan pengamalan salaf.
Dan sifat takbir yang masyru, ialah setiap muslim bertakbir dan mengeraskan suaranya sehingga orang-orang mendengarkan takbirnya, lalu merekapun mencontohnya dan ia mengingatkan mereka dengan takbir.
Adapun takbir jama’i yang mubtada’ (yang bid’ah), ialah adanya sekelompok jama’ah –dua orang atau lebih banyak- mengangkat suara semuanya. Mereka memulai bersama-sama dan berakhir bersama-sama dengan satu suara serta dengan cara khusus.
Amalan ini tidak mempunyai dasar serta tidak ada dalilnya. Hal seperti itu merupakan bid’ah dalam cara bertakbir. Allah tidak menurunkan dalil keterangan untuknya. Maka, barangsiapa yang mengingkari cara takbir yang seperti ini, berarti dia berpihak kepada yang haq, karena sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Artinya : Barangsiapa yang mengamalkan amalan yang tidak berlandaskan perintah kami, maka amalan itu ditolak”.
Maksudnya : Tertolak dan tidak masyru
Dan karena sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
“Artinya : Waspadalah terhadap segala urusan yang diada-adakan, karena semua yang diada-adakan adalah bid’ah dan semua bid’ah sesat”.
Dan takbir jama’i diada-adakan, maka amalan ini bid’ah. Amalan manusia jika menyalahi syari’at, maka wajib diingkari. Karena ibadah bersifat tauqifiyyah. Yaitu ibadah itu tidak disyariatkan, kecuali yang tercakup dalam dalil Al-Kitab dan As-Sunnah. Adapun perkataan dan pendapat manusia, maka tidak ada nilai hujjahnya jika menyalahi dalil-dalil syar’i. Begitu juga al-mashlahah al-mursalah, ibadah tidak bisa ada dengan berpatokan padanya. Karena ibadah hanya ditetapkan dengan nash dari Al-Kitab dan As-Sunnah serta ijma’ yang qath’i.
Yang disyariatkan ialah setiap muslin bertakbir sesuai dengan cara yang masyru, yang sah berdasarkan dalil-dalil syar’i. Yaitu dengan cara sendiri-sendiri (masing-masing).
Takbir jama’i telah diingkari. Syaikh Muhammad bin Ibrahim, Mufti Saudi rahimahullah telah melarang takbir jama’i. Beliau telah mengeluarkan fatwa larangan ini. Dan telah keluar dari saya sendiri lebih dari satu fatwa larangan takbir jama’i. Dan telah keluar fatwa larangan takbir jama’i dari Komite Tetap Untuk Riset Ilmiah dan Fatwa.
Syaikh Hammud bin Abdillah At-Tuwaijiri rahimahullah telah menyusun risalah yang sangat bagus tentang pengingkaran takbir jama’i dan pelarangannya risalah ini sudah dicetak dan tersebar. Dalam risalah itu terdapat dalil-dalil pelarangan takbir jama’i yang memadai serta memuaskan, Alhamdulillah
Adapun yang dijadikan hujjah oleh Syaikh Ahmad, yaitu perbuatan Umar Radhiyallahu ‘anhu dan orang-orang di Mina, maka tidak ada hujjah-nya. Karena amalan Umar Radhiyallahu ‘anhu dan amalan orang-orang di Mina bukan termasuk takbir jama’i, tetapi itu merupakan takbir yang masyru’. Yaitu karena Umar Radhiyallahu ‘anhu mengeraskan suaranya dengan takbir untuk mengamalkan sunah, dan untuk mengingatkan orang-orang terhadap sunnah ini, sehingga merekapun ikut bertakbir. Setiap orang bertakbir menurut keadaannya, dan tidak ada kebersamaan antara mereka dengan Umar Radhiyallahu ‘anhu untuk mengeraskan suara takbir dengan satu suara dari awal sampai akhir takbir seperti halnya cara orang-orang yang melakukan takbir jama’i pada zaman sekarang ini. Begitulah semua cara takbir yang diriwayatkan dari As-Salaf Ash-Shalih rahimahullah dalam semua takbir, seperti cara yang disyari’atkan. Barangsiapa yang mempunyai anggapan yang menyalahi cara tadi, maka ia wajib mendatangkan dalil.
Seperti itu juga hukum nida (panggilan/himbauan) untuk shalat Ied, shalat tarawih, qiyamullail atau witir. Semuanya bid’ah dan tidak ada asal (dalil)nya.
Dan telah sah dalam hadits-hadits shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau shalat Ied tanpa ada adzan dan tanpa iqamat. Sepengetahuan kami tidak ada ahlul ilmi yang mengatakan adanya nida (panggilan/himbauan) tertentu, sehingga ia wajib menunjukkan dalil. Dan hukum asalnya adalah “tidak ada”. Maka, seseorang tidak boleh mensyariatkan suatu ibadah berupa perkataan atau perbuatan, kecuali dengan dalil dari Kitab Al-Aziz atau dari As-Sunnah yang shahih, atau ijma ahlul ilmi –seperti yang sudah disebutkan. Karena umumnya dalil-dalil syar’i melarang bid’ah-bid’ah, serta memerintahkan untuk mewaspadainya. Diantaranya firman Allah.
“Artinya : Apakah mereka mempunyai sesembahan-sesembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka dien yang tidak diizinkan oleh Allah?” [As-Syura : 21]
Termasuk diantara dalil-dalil ini ialah kedua hadits yang disebutkan tadi, termasuk sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
“Artinya : Barangsiapa yang mengamalkan amalan yang tidak berlandaskan perintah kami, maka amalan itu ditolak”.
Dan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam khutbah Jum’at.
“Artinya : Amma ba’du. Maka sesungguhnya sebaik-baik hadits adalah kitab Allah. Sebaik-baik ajaran adalah ajaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan sesungguhnya sejahat-jahat urusan ialah yang diada-adakan, dan setiap bid’ah adalah sest”
Hadits-hadits serta atsar-atsar yang semakna dengan ini banyak.
Kepada Allah semata (kita) memohon, agar Dia menunjukkan kepada kami dan Syaikh Ahmad serta semua ikhwan kita untuk memahami dienNya. Serta tetap berpegang padanya. Dan semoga Dia mejadikan kita semua termasuk ke dalam golongan du’at yang menyerukan ajaran Allah dan membela kebenaran. Dan supaya Dia melindungi kita serta semua kaum muslimin dari segala sesuatu yang menyalahi syariatNya. Sesungguhnya Dia Maha Baik, lagi Maha Mulia.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun VI/1423H/2003M, Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo – Solo 57183]

Minggu, 20 Juli 2014

Menilik Tayangan TV di Bulan Ramadhan


Oleh: Heri Samtani

Ramadhan seringkali menjadi momen bagi acara-acara di stasiun TV untuk bermetamorfosis. Mengubah genre acara menjadi terkesan lebih Islami. Mulai dari acara lawakan sampai acara sinetron tak luput diberi bumbu-bumbu religi. Semua dikemas dengan nuansa Islami ala Ramadhan. Tidak tanggung-tanggung, acara TV berlomba-lomba untuk jadi yang terdepan dan paling menghibur di jam-jam sahur dan berbuka.
Ramadhan seolah menjadi ajang komersial. Karena pada hakikatnya nyawa sebuah program televisi terletak pada periklanan (advertasi). Semakin menarik dan berada pada puncak rating, sebuah acara akan kebanjiran sponsor. Maka tidak jarang, visi sebuah acara lebih mengarah pada suatu hal yang bersifat komersial, dengan mengesampingkan nilai-nilai keIslaman yang lebih kuat.

Sebut saja misalnya, acara lawak, yang tampak mendominasi layar kaca di sepanjang bulan suci Ramadhan. Hampir semua acara lawak dibubuhi kuis yang berdaya persuasif-konsumtif tinggi dengan pertanyaan-pertanyaan Islami yang klise. Selain itu, acara lawak sendiri akhir-akhir ini tengah mendapat peringatan keras dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Memang acara lawak yang biasa menghadirkan sejumlah guyonan slapstik dan seringkali berisi celaan pada kaum difabel, orang tua dan mengumpat kemiskinan. Tayangan semacam ini rasanya kurang pantas jika disisipkan dalam menu hiburan menjelang berbuka dan saat sahur.
Selain itu, tayangan sinetron juga lebih marak di bulan suci ramadhan. Dengan kemasan yang lebih Islami. Meskipun porsi religiusitasnya kurang ditonjolkan. Dan justru lebih menekankan unsur hiburan. Sehingga tidak jarang, sinetron Islami hanya sebatas kemasan luarnya saja yang Islami, dan belum mampu menyajikan unsur dakwah yang sesuai harapan pemirsa.

Hal yang paling ironis seputar tayangan TV di bulan Ramadhan adalah masih bermunculannya acara infotainment. Meskipun dengan penambahan porsi berita seputar ramadhan yang insya Allah jauh dari kemudharatan, namun, porsi gosip (ghibah-nya) masih mendominasi.

Akhir-akhir ini, mulai bermunculan sejumlah ajang pencarian bakat yang ditayangkan selama bulan Ramadhan. Kehadirannya cukup memberikan motivasi baru dan menggugah semangat untuk lebih banyak mengkaji nilai-nilai agama Islam. Bahkan, acara pencarian bakat penghafal (hafidz) Qur’an yang ditayangkan pada salah satu stasiun TV swasta sanggup memberikan tamparan keras di batin kaum muslimin. Selain itu, banyak juga bermunculan tayangan yang mengkaji peradaban Islam dan memberikan informasi bernilai historis.

Apapun bentuk tayangan di stasiun TV selama Ramadhan, sudah sepantasnya kita bersifat selektif. Jangan sampai terjerat dalam lingkar hiburan yang kurang berfaedah. Jangan sampai hiburan melenyapkan detik-detik kita untuk beramal shaleh di bulan yang penuh berkah ini. Di bulan yang telah lama kita rindukan.
Allah berfirman,
إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا


Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra’: 36)

Ramadhan Mencekam di Negara Konflik

Oleh : Heri Samtani





Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun..
Dan Demi bukit Sinai..
(Q.S. At-Tin: 1-2)


Bulan suci Ramadhan menjadi momentum bagi kaum muslim untuk mendulang berkah. Menebarkan amal-amal shalih di muka bumi. Berlomba-lomba untuk menjadi yang terdepan dalam beribadah. Namun, bulan Ramadhan di negara-negara konflik tentu takkan sama rasanya dengan bulan Ramadhan di negara-negara lain,_yang dalam situasi damai. Sebut saja Palestina, lebih dari 65 tahun, negara tersebut harus hidup di bawah kaki penjajahan zionis Israel. Beragam catatan kekejaman telah terukir di negeri Zaitun tersebut. Ramadhan tentu menjadi puncak perjuangan melawan rasa lapar. Lapar karena blokade ekonomi. Karena sekat-sekat pemisah kehidupan Palestina dengan dunia luar. Pemberlakuan jam malam yang menyiksa. Kamp-kamp pemeriksaan yang mencekam dengan senapan tentara yang selalu standby di genggaman tangan. Hingga detik ini, Palestina masih terdera di balik lambaian bendera Israel yang semakin kokoh berkibar.

Begitupun dengan Mesir yang masih menyisakan sisa-sisa konflik di batin para pendukung Mursi. Dengan naik takhtanya El-Sisi sebagai presiden baru Mesir, tentu bukan suatu hal yang menggembirakan bagi sebagian pendukung Mursi. Sang presiden baru adalah orang yang paling berpengaruh terhadap runtuhnya kekuasaan Mursi (sebagai presiden yang dipilih secara demokratis). Ramadhan di Mesir tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya. Dengan lentera yang menyala penuh kemeriahan dan semangat menjalani bulan Ramadhan. Apa yang terjadi di Mesir, dengan gejolak demokrasi yang ironis. Dengan pondasi keadilan yang rapuh, dan bentuk kekejaman pada ikhwanul muslimin telah menyisakan kepedihan yang mendalam.
Sementara di Suriah, bombardir pesawat tempur, rudal, artileri berat, dan hujan bom barel masih menghiasi negeri buah Tin tersebut. Rezim Al-Assad dibantu milisi Syiah dari Lebanon, Iran dan Iraq tak henti-hentinya melancarkan aksi kekejaman terhadap kaum sunni.

Mungkinkah ramadhan tahun ini akan sama dengan ramdhan sebelumnya? Ramadhan di tengah suasana mencekam. Konflik yang tak pernah usai. Dan tetes air mata pemilik negeri tak pelak menemukan muaranya. Setiap detik di Suriah bagaikan lorong menuju kematian.

Mengutip dari laman Nora News pada Ramadhan 2013 silam;

“jika anda berada di Argentina, anda akan berpuasa 5 jam, jika Anda di Swedia, anda akan berpuasa 20 jam, Jika di Afrika, anda akan berpuasa 10 jam, jika di  Perancis, anda akan berpuasa 19 jam, dan jika anda berada di Suriah, Anda akan berpuasa dan berbuka puasa di Surga,” tullis Nora News.

Kamis, 14 November 2013

Kupas LEBAHKU #Muharrom 1435 H

Edisi Nopember 2013
Selamat Pagi
Guten Morgen
Bonjour
Good Morning
صباح الخير
Buongiorno
おはようございます
Sabah Iyi

kali ini ada persembahan baru dari MCNR FSIKU
LEBAHKU (Lembar Hikmah Dari FSIKU) hadir kembali dengan tulisan penuh hikmah didalamnya sebagai apresiasi hari pahlawan kemarin (10 Nopember). dan berhubung UNJ merupakan kampus pendidikan ternyata ada Hari Guru Nasional juga yang tepatnya jatuh pada tanggal 25 Nopember. belum lagi ternyata dibulan ini pula bertepatan dengan tahun baru islam 1 Muharrom 1435 H...
wah subhanallah keren keren
kali ini saya akan coba untuk membahas salah satu isi dari buletin yang diterbitkan oleh MCNR FSIKU dengan judul:
 *********HAPPY ISLAMIC NEW YEAR 1435*********


SELAMAT MEMBACA...

Tahun Baru Islam 1435 Hijriyah, Hari ini Selasa 5 November 2013 bertepatan dengan tanggal 1 Muharram untuk kelender Hijriyah tahun 1435 H. Sebagai ummat Islam tahun baru Hijriyah adalah tahun yang sangat bersejarah dalam perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW menyebarkan agama Islam. Dakwah nabi atau ajakan Nabi untuk menyelamatkan ummat waktu dari bathil menjadi haq adalah sebuah perjuangan yang bukan tanpa tantangan. Tantangannya sangat berat, tantangan Nabi dalam menyebarkan ajaran Islam tidak hanya datang dari orang-orang yang jauh dari beliau, tapi bahkan tantangan tersebut datang dari orang-orang yang notabene sangat dekat secara kekeluargaan, termasuk paman beliau yang sangat menentang terhadap ajaran Islam adalah Abu Jahal dan Abu Lahab. Dakwah adalah sebuah ajakan. Ditolak oleh yang bukan keluarga ketika kita ajak, mungkin masih bisa kita tahan untuk sabar. Tapi kalau sudah keluarga yang menolak ketika kita ajak untuk beragama Islam, maka itu adalah sebuah tantangan yang sangat berat.

Bila mengenang ini semua sangat besar tantangan Nabi dalam menyebarkan Islam. Sudah sepantasnya bagi ummat Islam untuk selalu mengingat beliau, salah satunya dengan cara membacakan shalawat untuk Nabi. Jika mengingat jasa beliau yang telah membawa keselamatan, Islam, maka berapapun shalawat yang kita kumandangkan tidak akan sebanding. Adalah sangat memperihatinkan jika berbagai pihak mengatakan bahwa membaca perintah shalawat adalah dalam rangka menyelamatkan Nabi Muhammad SAW dari api neraka. Bukan. Sekali lagi bukan itu. Membaca shalawat adalah perintah Allah. Maka kita wajib patuh dan tunduk.

Memasuki tahun baru Islam, 1 Muharram 1435 H, menjadi momentum bagi kita semua umat Islam untuk melakukan interospeksi secara kolektif, guna melakukan perubahan dari keadaan yang kurang baik menjadi lebih baik sebagai revitalisasi hijrah. Meningkatkan spritualitas dan kesadaran keagamaan menjadi keniscayaan umat Islam Indonesia, terutama ketika bangsa ini dihadapkan dengan berbagai musibah yang sepatutnya direnungkan sebagai momentum menguji kualitas keimanan dan keberislamannya dan patut direnungi untuk diambil hikmahnya.


Semoga di masa mendatang, Allah akan memberikan jalan yang lebih luas, rizki lebih luas dan ilmu lebih luas.


Salam redaksi


#Jayanti, Suci, Ani
^v^          


Jumat, 01 November 2013

Rahasia dibalik Wudhu

Rahasia BERWUDHU dari Sudut Kesehatan Manusia




Syarat mendirikan solat ialah mengambil wudhu .Tentu tidak sah jika kita mengerjakan solat lima waktu tetapi meninggalkan wudhu.

Pernahkah kita terfikir dengan perintah Allah SWT dengan perbuatan yang nampak remeh ini. Kenapa tidak?? 

Kenapa tangan bersama dengan air menyentuh anggota-anggota tubuh. Kenapa wajah yang dibasuh? Kenapa mesti telinga?

Banyak rahasia berwudhu yang hanya Allah Maha Mengetahui namun antara rahsia wudhu yang dapat diungkapkan ialah:

Setiap perintah Allah SWT tentu memiliki hikmah kebaikan disebaliknya. Lima pancaindera kenapa semua tanpa terkecuali disapu oleh air wudhu. Mata, hidung, telinga & seluruh kulit tubuh.

 Ini betul-betul luar biasa.


Pakar Urat Saraf / neurologist pun telah membuktikan dengan air wudhu yang menyejukkan ujung-ujung urat saraf jari-jari tangan dan jari-jari kaki berguna untuk menenangkan fikiran.

Anda tentu pernah mendengar akupuntur kan?

Coba cari dan ketahui dimana terletaknya titik-titik sensitif yang sering digunakan dalam ilmu akupuntur?

kemudian hayati rukun wudhu. InsyaAllah kita akan menemui persamaan antara keduanya.

Anggota badan yang terkena semasa berwudhu terdapat ratusan titik akupuntur yang merupakan titik penerima ransangan terhadap sentuhan berupa basuhan, gosokan, usapan, dan tekanan/urutan ketika melakukan wudhu. Sentuhan tersebut akan dihantarkan ibarat signal ke sel, jaringan, organ dan sistem organ yang bersifat terapi. Ini terjadi kerana adanya sistem komunikasi iaitu antara sistem saraf dan hormon untuk mewujudkan homeostasis (keseimbangan). Titik-titik akupuntur merupakan suatu fenomena yang menarik bila berkaitan dengan syariat wudhu yang disyariatkan 15 abad yang lalu.

Jumlah Titik Akupuntur Pada Anggota Wudhu (rukun dan sunat)

Muka 84
Tangan 95
Kepala 64
Telinga 125
Kaki 125
Jumlah keseluruhan = 493

Ternyata terdapat 493 titik penerima ransangan pada anggota wudhu!

Subhanallah!! 

Bayangkan jika kita melakukan itu setiap hari paling sedikit 5 kali sehari…


Kita tidak harus memandang ringan semasa menjalani wudhu. Mengapa? Coba ingat semasa kita membasuh tapak kaki & tangan…apakah celah-celah jari sering kita abaikan? Ternyata ada fakta menarik yang ingin saya kongsikan:

Dari ilmu ahli akupuntur,pada celah-celah jari terdapat 16 titik akupunktur yang mana titik-titik tersebut apabila dirangsang secara istmewa ianya dapat mengobati migrain, sakit gigi, tangan-lengan merah, bengkak, dan jari kaku.

Berkenaan telinga pula, walaupun ia adalah amalan sunat, ia mengandungi 30 titik ransangan! Maka, semasa menyapu telinga itu jangan cuma membasuh saja, tapi harus dengan urutan lembut juga. Selepas ini sebaiknya kita tidak meninggalkan amalan sunat semasa berwudhu kerana setiapnya mempunyai titik penerima ransangan.

Terdapat 125 titik akupuntur pada telinga apabila disentuh semasa mengambil wudhu.




Subhanallah…

sungguh luar biasa rahasia wudhu…
 — 
Semoga kita menjadi muslim yang selalu menjaga Wudhu ya kawan !! 

#Jay... ^v^

Selasa, 29 Oktober 2013

Naik Haji Bukan Cuma Mimpi


Oleh: Zahirah Azzahra

Sepintas dua kata ini menyemburatkan dua kata lain. “Tak mungkin”.Iyalah tak mungkin. Mana bias mahasiswa kere seperti saya naik haji. Naik haji selain membutuhkan kesiapan mental dan fisik juga membutuhkan kecukupan finansial. Sedang berapa yang  saya punya?

Hampir semua orang mungkin berfikir sama seperti saya. Tapi kawan, tak banyak kah kita belajar dari sekitar. Masih ingat kah engkau, di sebuah stasiun televise swasta, seorang pemulung sampah berhasil membeli beberapa ekor kambing untuk dipotong pada perayaan idul adha. Begitu pula dengan seorang tukang becak yang mampu membeli seekor sapi yang harganya melangit bagi seorang tukang becak saat ini. Tak malukah engkau dengan kesungguhan mereka?

NIAT
                Niat itu bertekad. Tekad itu harus ditanamkan kuat-kuat. Kalau memang mau pergi haji, berniatlah padaNya. Panggil nama Nya jika engkau ingin dipanggil ke Baitullah. Seringlah membaca talbiyah. Labbaik Allahhumma Labaik. Maka Allah akan jawab: LabbaikaWaSaddaika. Aku dengar panggilanmu.

DOA
Doa itu selalu jadi senjata manjur bagi muslim. Tak akan rugi waktu bila berdoa. Karena doa dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja. Apalagi, Allah memberikan nilai plus untuk kita bila berdoa pada waktu-waktu tertentu seperti sepertiga malam atau ketika mendengar adzan. Allah telah memberikan sarana prasarana, lantas kenapa kita tak memanfaatkan nya? Toh, berdoa itu free and unlimited.

PELAJARI CARA-CARA NAIK HAJI
                Kalau hanya “Ingin” naik haji, tetapi “TidakMengerti” mengapa kita harus berhaji, akan melemahkan niat kita. Pelajarilah semua hal tentang berhaji. Buku Oki Setiana Dewi yang berjudul “Cahaya di AtasCahaya” bias menjadi salah satu referensi kita agar termotivasi untuk berhaji. Saya salah seorang pembaca yang terkesima karenanya.
HUSNUDZON
                Husnudzonlah terhadap Allah.Jangan dulu bilang tak mungkin. Apa yang tak mungkin baginya? Seekor anjing yang kehausan pun bilak elaparan akan ia tolong. Apalagi kita, umatnya yang rajin berdoa dan berbaik sangka padanya.

MENABUNG
Kita boleh bermimpi tinggi.Tapi mimpi tak boleh hanya stak menjadi mimpi. Ia harus terealisasi. Menabunglah mulai dari sekarang. Kita bias menabung di celengan ayam jago sendiri atau pun membuat tabungan haji di bank-bank syariah ternama. Insya Allah, ini akan mempermudah jalan kita kekota cahaya.

Oke, itu hanya sedikit saran yang bias saya bagikan setelah membaca buku Oki Setiana Dewi dan blog ustadz favorit saya, Yusuf Mansyur. Semoga yang sedikit ini, bias bermanfaat banyak.Terakhir, izin kan saya untuk mengutip status FB saya sendiri. Hehehe.

"Di Makkah, burung-burung cahaya beterbangan di atas Ka'bah, mengiringi ribuan manusia ber thawaf sepanjang waktu, yang tiap kicauannya adalah tasbih dan tiap kepakan sayap nya adalah tauhid. Disinilah cahaya Allah menaunginya. Ada Cahaya di atasCahaya" (Oki SetianaDewi dalam Cahaya di atas Cahaya)

Katakan: Aku tak butuh pergi ke White Building di USA, Menara Eiffel lambing cinta di Paris, atau patung megah Merlion di Singapur. Aku hanya butuh mengobati rinduku padaMu. Di kota tempat cahaya yang paling terang bersinar diantara kota-kota paling terang dengan iman. Yang cahayanya seakan-akan bagaikan bintang bersinar, seperti mutiara langit bertebaran.


_Semoga masih ada umur untuk menggenggam cahaya Mudisana_



Selasa, 22 Oktober 2013

Hakikat Cinta: Berkah atau Musibah

   Assalamualaikum sobat muslimnya FBS, eh muslim UNJ deh eh Muslim Semua deh  


C.I.N.T.A  ?
B.E.R.K.A.H ??
atau
M.U.S.I.B.A.H ???
   
                Pernah denger gak sih bahwa dengan cinta bisa membawa musibah?
Ini fenomena yang bener-bener ada lho. Coba aja kita lihat berapa banyak kejadian yang dilandasi dengan cinta yang mampu menghasilkan musibah. 

                Kalo kita lihat sejarah contohnya saja peperangan antara pasukan Romawi dan pasukan Troy. Ini adalah salah satu peperangan besar yang mana menghasilkan satu orang pahlawan yang hingga kini terkenal yang bernama Achilles. Ternyata eh ternyata peperangan ini berawal dari rasa cinta pangeran Troy dengan Permaisuri Romawi kemudian sang permaisuri dibawa kabur sama sang pangeran. See? Dengan cinta bisa membawa peperangan besar.

                Kalo yang sekarang-sekarang sih bisa bikin orang lupa ama hidupnya bahkan ama Yang Maha Hidup. Ketika cinta membawa masalah eh bukannya diselesaikan dengan kepala dingin malah kepalanya digantung, ckckck. Ini fenomena yang merupakan aib bagi kaum muda sekarang ini. Mereka bisa mengalahkan hidupnya demi sang yang dicinta. Padahal yang dicinta saja tidak bisa menghasilkan cinta. Mereka terjebak hawa nafsu yang dibawa setan.
               
               Jadi mencinta itu salah ya?
               Eits, siapa bilang cinta itu salah. Kalo cintanya di jalan yang tepat itu gak bisa dibilang salah.

Trus gimana sih cinta yang tepat?
Nah pertanyaan ini sering banget ditanyain padahal jawabannya sangat mudah. Tentu saja cinta yang tepat itu mencintai Yang Bisa Mengasilkan Cinta alias Sang Pemilik Cinta. So, emangnya siapa sih Sang Pemilik Cinta?

“Dan Dialah (Allah) Yang Maha Pengampun lagi Maha Mencintai hamba-hamba-Nya” (Q.S. Al-Buruuj:14).
                
               Jadi, Allah itu Maha Mencintai masa iya kita masih aja ingkar padaNya, masih aja kita lebih mencintai makhluk yang belum tentu dia itu mencintai kita. Trus pertanyaan selanjutnya apa iya kita tidak boleh mencintai orang tua, istri/suami, anak, saudara, dll? Jelas aja boleh selama kadarnya tidak melebihi cinta pada Allah. Atau lebih enaknya gini: kita mencintai orang tua/anak/istri/suami/saudara karena Allah mencintai mereka. Jadi landasannya balik lagi Cinta kepada Allah.
                Cinta itu sesungguhnya sangat indah jika dilandasi Cinta pada Allah. Namun, cinta bisa menjadi musibah seperti sejarah peperangan yang saya ceritakan di atas, ataupun bisa menghilangkan nyawa secara konyol. Cinta yang baik maupun cinta yang buruk adalah dua pilihan yang pasti harus kita pilih, tinggal semua bergantung kepada pribadi masing-masing.
“…Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu sendiri yang mengubah apa yang ada pada diri mereka....” (Q.S. Ar-Ra’d:11).

Depok, 15 Oktober 2013


  • Tomy ‘Abu Ali’ Sarwono

Sabtu, 12 Oktober 2013

Untukmu Kawan



kawan, bersyukurlah ketika kau belum memiliki segala sesuatu yang kau inginkan...jika sudah, apalagi yang harus diinginkan? manusia bisa saja tetap hidup selama 3 hari tanpa makan, tapi tidak mungkin bisa bertahan lebih dari 3 detik tanpa impian... bermimpilah sobat, inginkan apa yang ingin kau miliki... bermimpilah kawan... “karena Tuhan memeluk mimpi2 itu” kata Arai dalam laskar pelangi.

kawan, bersyukurlah apabila kamu tidak tahu sesuatu. Karena sesungguhnya itulah yang memberimu kesempatan untuk terus belajar. Bukanka kita memang terlahir untuk terus belajar? belajarlah mengenal TuhanMu karena itulah sumber segala ilmu, belajarlah dari kehidupan, karena itulah "sekolah" yang sesungguhnya bagimu.

kawan, bersyukurlah ketika kamu dihadapkan pada masa-masa sulit, karena pada saat itulah kamu tumbuh. Ingatkah engkau pada tanah yang gembur setelah diterpa guyuran hujan? demikianlah seharusnya diri kita, menjadi pribadi yang lebih bernilai ketika masalah terlalu sering menghantam kita.

kawan, bersyukurlah untuk setiap pengorbananmu, karena itulah yang akan membangun kekuatan dan karaktermu. Jangan pernah berfikir apa yang orang lain telah berikan kepadamu, tapi berfikirlah apa yang telah kau berikan pada orang lain. karena seseorang dinilai dari seberapa besar pengorbanannya semasa hidupnya.  

seseorang dengan tujuan yang jelas akan membuat kemajuan walaupun melewati jalan yang sulit. Seseorang yang tanpa tujuan, tidak akan pernah membuat kemajuan walaupun ia berada dijalan yang mulus (Thomas Ghorlyle)

terselip untaian do'a dan deru semangat
untuk kawan seperjuangan di FSIKU
Majulah wahai Mujahid Muda!

-NK-